Blog

  • Para Penggerak Ketahanan Pangan di Daerah: Inovasi hingga Pemberdayaan Lokal

    Para Penggerak Ketahanan Pangan di Daerah: Inovasi hingga Pemberdayaan Lokal

    Para Penggerak Ketahanan Pangan di Daerah: Inovasi hingga Pemberdayaan Lokal

    Jakarta – Beragam kontribusi dilakukan oleh 10 besar kandidat DPD RI Awards 2026 kategori Penggerak Desa Mandiri Pangan. Dedikasi mereka mencakup pemberdayaan potensi lokal hingga inovasi dalam mendorong ketahanan pangan di daerah.
    Tim panitia sebelumnya telah melakukan proses seleksi panjang untuk menentukan 10 besar kandidat DPD Awards 2026. Proses penyaringan dimulai dari seleksi administrasi terhadap seribuan kandidat yang mendaftar.

    Setelah itu, panitia menentukan 50 besar kandidat sebelum akhirnya menyaring kembali hingga terpilih 10 besar kandidat di masing-masing kategori. Untuk kategori ketahanan pangan, mereka yang terpilih berasal dari berbagai daerah dengan kontribusi yang beragam, dari mulai Aceh, Magelang, hingga Sumbawa.

    Adapun penghargaan ini akan diberikan kepada individu yang menjadi penggerak dalam membangun desa mandiri pangan melalui pemanfaatan potensi pangan lokal, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ketahanan pangan secara berkelanjutan yang memberikan manfaat bagi masyarakat desa.

    Berikut daftar 10 kandidat DPD Awards Kategori Penggerak Desa Mandiri Pangan:

    1. Agus Setiawan

    Agus Setiawan menjadi penggerak kemandirian pangan desa melalui program Desa Berdaya Ikan Lele di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, sejak tahun 2023. Agus, yang merupakan Ketua Gucang Farm, menerapkan sistem budidaya bioflok.

    Bioflok merupakan metode budidaya ikan yang memanfaatkan mikroorganisme untuk mengolah sisa pakan dan kotoran ikan menjadi gumpalan (floc) yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi tambahan bagi ikan. Teknologi bioflok ini membantu meningkatkan efisiensi penggunaan pakan dan air.

    Program Desa Berdaya Lele di Tigaraksa ini menghasilkan sekitar 2 kuintal lele per minggu. Kelompok ternak ini juga sudah memproduksi benih lele sebanyak 1.500.000 ekor per bulan.

    Agus Setiawan/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Selain fokus pada budidaya, masyarakat didorong mengembangkan produk olahan lele dan memperluas akses pemasaran sehingga nilai tambah hasil panen meningkat. Produk olahannya antara lain abon lele, siomay lele, pempek lele, hingga cookies tulang lele.

    2. Ahmad Lafillian Romadhi

    Ahmad Lafilian Romadhi, petani milenial asal Desa Kedungrejo, Kabupaten Jombang, mengembangkan Melonponik Megaluh sejak tahun 2023. Dia menggerakkan desa mandiri pangan melalui budidaya melon premium berbasis hidroponik.

    Ahmad mengubah lahan tidur menjadi kawasan produksi pangan. Dia memadukan greenhouse, sistem hidroponik, dan teknologi smart farming berbasis Internet of Things (IoT) untuk menghasilkan melon premium.

    Ahmad Lafillian/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Program ini telah menggerakkan sekitar 66 warga lain yang terlibat dalam budidaya melon di Jombang. Selain itu, program ini telah direplikasi oleh lebih dari 480 mitra hidroponik di seluruh Indonesia.

    Lewat Smart Greenhouse berbasis Internet of Things (IoT), Melonponik berupaya menjawab persoalan budidaya melon konvensional yang masih rentan terhadap hama. Dalam satu kali panen, greenhouse berukuran 10 × 45 meter dapat menghasilkan omzet hingga Rp 35 juta – Rp 45 juta, dengan frekuensi panen sekitar 5-7 kali setahun.

    3. Anang Ismail

    Anang Ismail adalah Ketua Perkumpulan Peternak Kambing Perah Rojo Koyo Utomo di Dusun Jengglik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dia berperan sebagai penggerak utama kemandirian pangan dan ekonomi masyarakat melalui pengembangan peternakan kambing perah berbasis potensi lokal.

    Kelompok ternak ini menjadi wadah pembinaan, peningkatan keterampilan, dan pengembangan usaha. Rojo Koyo Utomo telah menghimpun peternak di sekitar 65 desa yang tersebar di tiga kabupaten, yaitu Magelang, Temanggung, dan Wonosobo.

    Anang Ismail/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Anang meningkatkan kapasitas peternak melalui pelatihan, pendampingan, bimbingan teknis, dan penerapan Good Farming Practices. Dia juga mendorong penggunaan bibit dan indukan unggul untuk meningkatkan kualitas ternak serta produktivitas susu.

    Untuk meningkatkan nilai jual, Anang bersama kelompok ternak mengembangkan unit pengolahan susu kambing, termasuk produk susu kambing pasteurisasi berkualitas.

    4. Asep Hidayat Mustopa

    Asep Hidayat Mustopa atau Abah Asep adalah penggagas Desa Wisata Hanjeli di Waluran Mandiri, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dia melestarikan tanaman lokal hanjeli yang bijinya dapat diolah menjadi beras hanjeli, tepung, bubur, dan berbagai makanan olahan lainnya.

    Desa Wisata Hanjeli telah berdiri sejak tahun 2015. Di desa wisata ini, para tamu bisa mempelajari sejarah hanjeli-biji-bijian kuno yang dulu hampir punah-sambil mencicipi beragam olahan tradisional seperti bubur hanjeli, nasi liwet hanjeli, peuyeum hanjeli, hingga rengginang hanjeli.

    Asep Hidayat/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Program Asep ini telah melibatkan lebih dari 150 warga. Asep juga memberdayakan perempuan, kelompok tani, hingga mantan pekerja migran Indonesia (PMI) di Desa Wisata Hanjeli.

    Desa Wisata Hanjeli mampu menghasilkan lebih dari 20 ton panen yang diolah menjadi berbagai produk pangan dan turunan. Secara ekonomi, kegiatan ini mampu menciptakan perputaran omzet hingga ratusan juta rupiah per tahun.

    5. Daryono

    Daryono mengembangkan Pertanian Berkelanjutan Untir Kalimian Menyala Hijau Lestari bersama Kelompok Tani Kokar Bantan II di Desa Mokong, Moyo Hulu, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Inovasi ini bermula dari rendahnya produktivitas lahan kering tadah hujan akibat keterbatasan air.

    Sejak 2012, masyarakat secara swadaya memanfaatkan sumur bor, kolam penampung, dan aliran sungai untuk mengairi lahan. Pada 2023, Daryono mengembangkan sistem irigasi pompaisasi listrik yang membuat akses air menjadi lebih mudah, murah, dan berkelanjutan.

    Daryono/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Dampak dari pompaisasi listrik ini, lahan yang sebelumnya hanya dapat ditanami sekali dalam setahun kini dapat dimanfaatkan hingga empat kali masa tanam. Biaya pengairan turun hingga Rp 485.000 per hektare per musim tanam, sementara lahan seluas 80,7 hektare yang sebelumnya bergantung pada musim hujan kini dapat dimanfaatkan sepanjang tahun.

    Sistem irigasi ini sudah diterapkan di lebih dari 180 titik pada 37 desa dan 16 kecamatan di Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat. Selain meningkatkan ketahanan pangan, Daryono menunjukkan bahwa pengelolaan air berbasis masyarakat dapat menjadi model pertanian berkelanjutan di wilayah lahan kering.

    6. Ella Rizki Farihatul Maftuhah

    Ella Rizki Farihatul Maftuhah menggerakkan ketahanan pangan desa dengan mengembangkan Kelompok Wanita Tani (KWT) Nira Lestari di Desa Trenten, Kabupaten Magelang. Program ini bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat desa, khususnya perempuan, dengan mengolah hasil kelapa menjadi produk gula semut.

    Inovasi gula semut ini hadir karena harga gula batok relatif lebih rendah. Ella menggagas program ini sejak tahun 2012 dan kini telah memiliki 90 anggota.

    Ella Rizki/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Program ini kemudian berkembang dari pemberdayaan masyarakat menjadi usaha agroindustri berorientasi ekspor. PT Nira Lestari International memproduksi dan memasarkan gula semut dengan merek sendiri, salah satunya Golden Nira. Pada Agustus 2023, perusahaan berhasil mengekspor gula semut ke Malaysia.

    Selain gula semut, Nira Lestari mengembangkan produk berbasis kelapa lainnya seperti virgin coconut oil (VCO). Model pemberdayaan ini menjadikan potensi kelapa sebagai sumber nilai ekonomi dan kemandirian pangan desa.

    7. Filza Sigit Pratama

    Filza Sigit Pratama menciptakan inovasi ketahanan pangan melalui Lutan Agrofarm di Kampung Lutan, Kecamatan Long Hubung, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Dia mengembangkan konsep mini food estate seluas 21 hektare yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.

    Di sektor pertanian, Lutan Agrofarm mengembangkan padi gunung dan 13 komoditas hortikultura. Sektor peternakan mencakup sekitar 5.000 ekor ayam petelur dan penggemukan sapi, sementara sektor perikanan menggunakan sistem bioflok melalui delapan kolam untuk budidaya ikan nila dan lele.

    Filza Sigit/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Produksi hortikultura menghasilkan omzet rata-rata sekitar Rp 85,52 juta per bulan, sedangkan ayam petelur menghasilkan sekitar 4.550 butir telur per hari. Lutan Agrofarm juga membangun kemitraan dengan masyarakat dan kelompok tani di sekitar kawasan.

    Kemitraan dengan 13 kelompok tani yang melibatkan 169 orang menghasilkan sekitar 18 ton jagung pipil per bulan untuk memenuhi kebutuhan pakan ayam. Selain itu, program kemitraan ayam petelur memberikan masing-masing 100 ekor ayam kepada 20 keluarga prasejahtera. Inovasi Filza ini turut mendorong transformasi Kampung Lutan dari desa tertinggal pada 2021 menjadi desa mandiri pada 2025.

    8. Jumali Wahyono Perwito

    Jumali Wahyono Perwito menggagas Desa Wisata Durian Pogog. Dia mengubah Desa Pogog, Puhpelem, Wonogiri, dari wilayah yang dahulu tandus menjadi sentra durian unggulan sekaligus destinasi wisata berbasis pertanian.

    Pengembangan Durian Pogog menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, mulai dari proses budidaya hingga pengembangan wisata. Panen perdana pada tahun 2015 menjadi momentum awal durian Pogog dikenal luas.

    Jumali/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Aksi yang dilakukan Jumali menjadikan Desa Pogog sebagai salah satu destinasi wisata berbasis durian yang menarik ribuan pengunjung setiap musim panen. Sejak panen perdana pada 2015 hingga 2026, sekitar 60.000 bibit durian unggulan telah ditanam di kawasan Pogog.

    Status sebagai desa wisata turut mendorong kenaikan harga tanah dan memperluas aktivitas ekonomi warga. Jumali berhasil menjadi penggerak sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri masyarakat untuk memanfaatkan pertanian sebagai sumber mata pencaharian utama.

    9. Rivan Rinaldi

    Rivan Rinaldi membangun ‘Rumoh Pangan Aceh’ untuk mengembangkan kacang koro pedang sebagai alternatif pangan lokal. Program ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada kedelai impor.

    Program ini diinisiasi Rivan karena kacang koro pedang memiliki kandungan gizi yang baik serta harga yang lebih kompetitif. Produktivitas kacang koro pedang juga berpotensi lebih tinggi dibandingkan kedelai.

    Awalnya, Rumoh Pangan Aceh mengelola 8 hektare lahan dengan 15 petani. Kini, program tersebut berkembang menjadi 28 hektare dengan keterlibatan sekitar 150 petani di delapan kabupaten/kota di Aceh. Kapasitas produksi pun meningkat dari 10 kg menjadi 200 kg per hari.

    Rivan/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Hasil produksi telah mencapai lebih dari 25.000 produk dan menjangkau lebih dari 20.000 konsumen di Banda Aceh dan Aceh Besar. Pemasaran dilakukan melalui empat pasar modern, 21 kanal pasar tradisional, dua SPPG MBG, dan dua sekolah. Program ini turut membuka 20 lapangan kerja, termasuk bagi 14 perempuan di dua desa.

    10. Taufiq Supriadi

    Taufiq Supriadi menciptakan Survival Architecture Indonesia/Eco EduFarm, sebuah model ketahanan pangan perkotaan yang dikembangkan bersama warga RT 08/RW 04 Malaka Jaya, Jakarta Timur, sejak Oktober 2023. Taufiq merupakan ketua RT setempat.

    Taufiq mengubah ruang terbatas di kawasan permukiman-seperti gang, dinding, pagar, halaman, area komunal, hingga saluran U-ditch-menjadi infrastruktur pangan. Pengembangannya mengintegrasikan budidaya ikan, tanaman produktif, hidroponik, akuaponik, ayam petelur, maggot, pengolahan sampah organik, pembuatan kompos, konservasi air, dan energi terbarukan.

    Taufiq/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Melalui program Sister Village dan Desa Berdaya, Eco EduFarm berkembang dari inisiatif tingkat RT menjadi model pembelajaran ketahanan pangan perkotaan yang menarik minat kunjungan dan replikasi dari berbagai daerah, termasuk peserta dari Jepang dan China.

    Taufiq bersama warga telah menghimpun 817 tanaman produktif dalam kurun waktu 2 tahun 9 bulan di lingkungan RT 08/RW 04. Dia juga mengembangkan kolam lele double-decker di saluran U-ditch sepanjang 42 meter dengan 5.400 bibit. Panen pada 2026 ini mampu menghasilkan hingga 400 kg lele untuk mendukung pemenuhan asupan protein dan gizi warga.

  • Mereka yang Berjuang untuk Pendidikan di Daerah: Membuka Akses untuk Semua

    Mereka yang Berjuang untuk Pendidikan di Daerah: Membuka Akses untuk Semua

    10 Kandidat DPD RI Awards Bidang Pendidikan (dok. Istimewa)

    Jakarta – Sepuluh kandidat DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Pendidikan Non Formal/Pendidikan Luar Sekolah melakukan berbagai upaya untuk memperluas jangkauan pendidikan di daerah. Para kandidat menjadi penggerak pendidikan untuk anak di daerah tertinggal hingga mendirikan sekolah alam.
    Sebanyak 10 kandidat ini telah ditentukan oleh panitia seleksi DPD Awards 2026. Proses penyaringan dimulai dari seleksi administrasi terhadap seribuan kandidat yang mendaftar.

    Panitia kemudian menentukan 50 besar kandidat sebelum akhirnya menyaring kembali hingga terpilih 10 besar kandidat di masing-masing kategori. Pada kategori bidang pendidikan ini, penghargaan akan diberikan kepada individu yang memiliki dedikasi dan berkontribusi dalam pendidikan nonformal.

    “Penghargaan diberikan kepada Inovator Pendidikan Nonformal/Pendidikan Luar Sekolah yang berdedikasi dalam mengembangkan pendidikan nonformal dan memperluas kesempatan belajar bagi masyarakat,” tulis DPD RI dalam laman resminya, seperti dilihat detikcom, Rabu (7/10/2026).

    Berikut sosok kandidat Inovator Pendidikan Non Formal/Pendidikan Luar Sekolah yang diurutkan berdasarkan abjad:

    1. Afakhrul Masub Bakhtiar
    Afakhrul Masub Bakhtiar adalah kandidat asal Gresik, Jawa Timur. Afakhrul menjadi pendiri Sekolah Ndeso, di sebuah desa di Gresik, Jawa Timur, pada tahun 2017. Sekolah Ndeso menerapkan model pendidikan kontekstual yang berakar pada kearifan lokal namun berorientasi pada masa depan.

    Sekolah Ndeso bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan sebuah ekosistem pengetahuan yang menyatukan tradisi, budaya, dan praksis atau pelaksanaan suatu teori ke dalam bentuk tindakan nyata di kehidupan sehari-hari.

    Kandidat DPD RI Awards Afakhrul Masub Bakhtiar Foto: dok. Istimewa
    Filosofi Sekolah Ndeso sederhana tapi mendalam: dari akar lahir harapan, dari harapan tumbuh masa depan yang bermartabat. Landasan pembelajaran Sekolah Ndeso adalah metode TAR (Tumbuhkan, Alami, Rayakan).

    Konsep belajar Sekolah Ndeso menyentuh empat dimensi utama: Laku sebagai praktik nyata budaya pangan, Ingatan yang memperkuat memori kolektif, Doa yang menanamkan nilai syukur, serta Inovasi yang menjembatani tradisi dengan kreasi generasi muda.

    2. Alvian Wardhana
    Alvian Wardhana mendirikan Literasi Anak Banua pada tahun 2018. Literasi Anak Banua berfokus pada pemberdayaan anak serta pemuda adat melalui pendidikan di wilayah terpencil Kalimantan Selatan (Kalsel).

    Pendirian Literasi Anak Banua berangkat dari persoalan buta huruf, keterbatasan akses pendidikan, ketidaksesuaian kurikulum dengan konteks masyarakat adat serta kerentanan terhadap perubahan iklim.

    Kandidat DPD RI Awards Alvian Wardhana Foto: dok. Istimewa
    Sejumlah program pun dikembangkan, di antaranya bimbingan belajar dan literasi-numerasi, pendidikan iklim, pembangunan perpustakaan mini, pemberdayaan pemuda adat, inkubator iklim Meraki, SAFE for Gender and Climate serta Pelatihan Advokasi Pembaharu Muda Kalimantan Selatan.

    Program-program itu menggabungkan pendidikan, pengembangan kapasitas, kewirausahaan, advokasi, kesetaraan gender dan pemecahan masalah lingkungan. Praktiknya melibatkan pelajar-guru, pemuda adat, komunitas lokal serta berbagai mitra seperti UNICEF, UNESCO, Plan International, hingga Rockefeller Foundation.

    3. Egi Trialogi
    Egi Trialogi merupakan seorang guru honorer dan tutor pendidikan kesetaraan asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat (Jabar). Dia mendirikan sekolah anak jalanan bernama Pustaka Raharja di Majalengka.

    Lewat Pustaka Raharja, Egi mengintegrasikan pendidikan kesetaraan, pembentukan karakter dan pemberdayaan ekonomi anak jalanan. Dia menyediakan sistem pembelajaran nonformal yang fleksibel dan berlandaskan kearifan lokal guna memutus rantai kerentanan sosial-ekonomi.

    Kandidat DPD RI Awards 2026 Egi Trialogi (Foto: dok. Istimewa)
    Egi membuka dan menggerakkan usaha yang dikelola langsung oleh peserta didik dengan bimbingan operasional, pelayanan, dan keuangan. Berikut ini unit usaha yang dikelola dan dijalankan anak didik Egi Trialogi:

    – Angkringan Senja: Layanan kuliner malam yang merakyat.
    – Dapoer Senja: Olahan pangan lokal dan katering.
    – Nusantara Steam: Pelatihan jasa perawatan kendaraan.
    – Toko Sayuran Berkah Nusantara: Tata kelola ritel dan distribusi bahan pangan segar.

    4. Fatmawati Arisuddin
    Fatmawati Arisuddin menggagas program Tukar Sampah dengan Ijazah Kesetaraan sejak tahun 2019. Program ini merangkul masyarakat prasejahtera di Mamuju Tengah, Sulawesi Barat (Sulbar), dengan mengintegrasikan pendidikan kesetaraan, pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sampah.

    Program Tukar Sampah dengan Ijazah Kesetaraan menyediakan pendidikan Paket A, B, dan C secara gratis. Fatmawati juga mengajak warga mengumpulkan sampah plastik dan botol bekas yang diolah menjadi material pengganti batu bata untuk membangun fasilitas pendidikan.

    Kandidat DPD RI Awrads Fatmawati Arisuddin Foto: dok. Istimewa
    Kemudian gerakan ini diperluas melalui Program Keaksaraan Dasar dan Keaksaraan Usaha Mandiri bagi masyarakat yang belum mampu membaca, menulis, dan berhitung. Ada juga program Tukar Sampah dengan Beasiswa Kuliah untuk membantu lulusan Paket C melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

    Program-program yang dijalankan Fatmawati Arisuddin ini menghubungkan pendidikan, pelestarian lingkungan, kemandirian masyarakat dan gotong royong dalam satu ekosistem pemberdayaan desa.

    5. Gusti Mohammad Hamdan Firmanta
    Gusti Mohammad Hamdan Firmanta merupakan pendiri Kawan Netra, lembaga pendidikan untuk pendampingan tunanetra yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur, sejak tahun 2021. Kawan Netra menjalankan program Gerakan Tunanetra Mengaji (GTM) dan Buta Digital (BD).

    Program GTM digagas berangkat dari angka buta huruf Quran Braille (QB) di kalangan tunanetra muslim Indonesia yang cukup tinggi, yakni mencapai 95%. Mereka hafal Al Quran dan mahir qiroah, tapi untuk membacanya karena tak mampu.

    Kandidat DPD RI Awards Gusti Mohammad Hamdan Firmanta Foto: dok. Istimewa
    Program ini menjadi support system pendidikan baca tulis QB yang memastikan pembelajaran berjalan dengan baik dan berkelanjutan. Di dalamnya terdapat pelatihan guru QB, Kegiatan Belajar Mengaji, Festival Tunanetra Mengaji dan kerelawanan.

    Sementara program BD merupakan program bimbingan dan pelatihan literasi digital bagi tunanetra agar bisa mandiri dan mengoperasikan platform digital. Dengan program ini, para tunanetra bisa menguasai sejumlah flat form digital dan bisa menghindarkan mereka dari penipuan.

    6. Kanaya Malika Amanda
    Kanaya Malika Amanda adalah kandidat berasal dari Kabupaten Bungo, Jambi. Dia merupakan penggagas dan penggerak program Edukasi Berjalan, yakni gerakan youth changemaker yang merangkum perjalanan 8 tahun Kanaya sebagai pendidik pemuda dan anak. Gerakan ini berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam memajukan pendidikan masyarakat marjinal.

    Inisiatif ini lahir dari minimnya pembangunan serta inovasi pendidikan oleh pemerintah daerah yang jarang melibatkan pemuda. Bergerak secara independen, Kanaya menggerakkan anak muda untuk merangkul, berbagi dan menginspirasi anak-anak dari komunitas rentan demi menciptakan akses pendidikan yang setara.

    Kandidat DPD RI Awards Kanaya Malika Amanda Foto: dok. Istimewa
    Hingga kini, Kanaya telah memimpin lebih dari 253 program pendidikan langsung bagi anak dan pemuda yang mencakup isu hak asasi manusia, lingkungan (sampah dan iklim), pemberdayaan perempuan, keamanan digital, pencegahan kekerasan dengan metode pendidikan sistem thinking (pendidikan bagaimana dunia bekerja: politik, ekonomi, sosial).

    Lewat program-program youth changemakers, gerakannya telah berdampak langsung pada 28.575 orang di 11 kota dan 2 negara, serta menjangkau partisipasi daring hingga ke 10 negara di tingkat lokal hingga internasional.

    7. Sofian
    Sofian mendirikan Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL), wadah pendidikan konservasi bunga puspa langka Bengkulu atau Rafflesia, sejak tahun 2010. KPPL didirikan berawal dari keprihatinan terhadap rendahnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian Rafflesia.

    Melalui KPPL, Rafflesia dijadikan sebagai media pembelajaran dan pintu masuk pendidikan lingkungan. Edukasi dilakukan melalui kegiatan pengenalan Rafflesia, pembelajaran langsung di habitat, ekspedisi, pengamatan, dokumentasi, kampanye konservasi, edukasi ke sekolah, komunitas, serta pemanfaatan media digital.

    Kandidat DPD RI Awards Sofian Foto: dok. Istimewa
    Pendekatan ini membuat pendidikan tidak hanya berlangsung secara teoritis, tetapi memberikan pengalaman nyata kepada masyarakat untuk mengenal, memahami, mencintai, dan menjaga kekayaan alam di sekitarnya. Kegiatan ini menempatkan masyarakat sebagai subjek sekaligus pelaku pendidikan konservasi Rafflesia.

    Pengetahuan yang diperoleh diarahkan menjadi kepedulian dan aksi nyata, seperti menjaga habitat Rafflesia, menyebarkan informasi konservasi, menerapkan etika saat berada di lokasi puspa langka, serta mengajak masyarakat lain untuk turut melestarikannya.

    8. Sri Wahyaningsih
    Sri Wahyaningsih merupakan inisiator Sanggar Anak Alam (SALAM), “Laboratorium Pendidikan” untuk melayani anak-anak dari jenjang PAUD hingga SMA. SALAM diinisiasi pada tahun 1988 di Desa Lawen, Banjarnegara, sebagai respons terhadap tingginya angka putus sekolah dan pernikahan dini.

    Kemudian, SALAM mengembangkan pendekatan “sekolah hadap masalah”, yaitu pembelajaran berbasis pengalaman nyata, pengamatan lingkungan, diskusi, riset, dan pencarian solusi bersama. Sejak 2000, pendekatan itu dikembangkan di SALAM, Nitiprayan, Bantul, melalui PKBM yang mendampingi anak usia dini hingga setara SMA.

    Kandidat DPD RI Awards Sri Wahyaningsih Foto: dok. Istimewa
    Proses belajar tidak berbasis mata pelajaran, tetapi riset sesuai minat anak dengan empat pilar utama, yaitu pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya, yang kemudian ditambah dengan energi.

    Melalui SALAM, proses belajar dibebaskan dari dinding kelas yang kaku dan teks hafalan. SALAM menjadikan lingkungan sekitar, potensi lokal serta peristiwa sehari-hari di masyarakat sebagai media utama pembelajaran.

    Belajar tidak lagi diartikan sebagai persiapan untuk ujian, melainkan proses mengalami dan memahami kehidupan itu sendiri secara kontekstual. SALAM membuktikan bahwa komunitas lokal mampu mengelola pendidikan yang inklusif, humanistis, dan memberdayakan tanpa harus bergantung penuh pada standardisasi kaku.

    9. Taryaningsih
    Taryaningsih mendirikan Kawasan Inklusif sebagai wadah pendidikan nonformal bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Kawasan Inklusif dibangun pada tahun 2019, inovasi pertama di Indonesia yang menghabiskan dana Rp 3 miliar lebih.

    Lewat Kawasan Inklusif, para penyandang disabilitas diberikan bekal keterampilan vokasi untuk mencetak disabilitasmart. Para penyandang disabilitas juga diajari langsung hidup berdampingan di masyarakat (bersosialisasi dengan non disabilitas).

    Kandidat DPD RI Awards Taryaningsih Foto: dok. Istimewa
    Pembangunan Kawasan Inklusif ini bertujuan untuk memberikan kesempatan pada disabilitas dan kelompok rentan untuk mempunyai rumah sendiri. Program ini membantu menciptakan infrastruktur yang ramah disabilitas (rumah dengan desain khusus).

    Taryaningsih juga berupaya menciptakan usaha untuk disabilitas dan memudahkan pemasaran karena menjadi satu sentra usaha (kawasan produktif).

    Layanan umum di kawasan ini didesain secara khusus agar aksesibel untuk disabilitas. Jalan juga dirancang khusus untuk disabilitas ada jalur kursi roda dan guiding block untuk disabilitas netra.

    10. Yudhi Hari Wibowo
    Yudhi Hari Wibowo merupakan inisiator ASN Mengajar, yakni gerakan nasional yang berawal dari pengalaman mengajar secara sukarela sejak 2017. Program ASN Mengajar dijalankan dan dipimpin Yudhi sejak 2022.

    Gerakan ini mengajak ASN di berbagai wilayah Indonesia berperan dalam pemerataan pendidikan bagi masyarakat prasejahtera melalui pendidikan formal, nonformal, dan informal.

    Kandidat DPD RI Awards Yudhi Hari Wibowo Foto: dok. Istimewa
    ASN Mengajar menjalankan kegiatan pengajaran rutin, bantuan pendidikan, kelas minat dan bakat, kewirausahaan kreatif remaja, outing class, serta beasiswa dan bantuan perlengkapan sekolah.

    Kini, gerakan ini berbadan hukum sebagai Yayasan Pendidikan Dewantara Muda dan memiliki jaringan di enam wilayah binaan, yaitu Tangerang Selatan, Banda Aceh, Samarinda, Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta Utara.

  • Kisah Mereka yang Menjaga Budaya Daerah Tetap Hidup: Dari Tenun hingga Tari

    Kisah Mereka yang Menjaga Budaya Daerah Tetap Hidup: Dari Tenun hingga Tari


    Foto: Kandidat DPD RI Awards Kategori Pelestari Budaya Daerah (dok. Istimewa)

    Jakarta – Sepuluh nama terpilih menjadi kandidat kandidat DPD RI Awards 2026 kategori Pelestari Budaya Daerah. Mereka kembali menghidupkan budaya daerah yang hampir punah hingga mempromosikan seni dan budaya hingga ke mancanegara.
    Panitia DPD RI Awards sebelumnya telah memilih 10 kandidat dalam kategori Pelestari Budaya Daerah. Penghargaan nanti akan diberikan kepada satu orang.

    “Diberikan kepada individu yang memiliki inovasi dalam pengembangan dan pelestarian budaya daerah serta berperan aktif dalam mempromosikan budaya daerah di tingkat nasional maupun internasional,” tulis DPD RI dalam laman resminya, seperti dilihat detikcom, Rabu (7/10/2026).

    Berikut nama 10 kandidat Pelestari Budaya Daerah DPD RI Awards 2026, yang diurutkan berdasarkan abjad:

    1. Alfonsa Raga Horeng
    Alfonsa Raga Horeng merupakan pelestari, penggerak dan pendiri Sentra Tenun Lepo Lorun, yang memberdayakan kaum perempuan untuk menjaga warisan budaya tenun ikat tradisional di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Gagasan utamanya bukan hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi perempuan.

    Alfonsa melakukan budidaya bahan baku, seperti kapas dan tumbuhan penghasil warna alam, untuk produksi tenun dan berbagai layanan produk serta jasa edukasi wisata. Dia mengedukasi keterampilan tenun lewat pelatihan teknik menenun, pewarnaan alami, dan pemeliharaan kualitas kain.

    Kandidat DPD RI Awards 2026 Alfonsa Raga Horeng Foto: dok. Istimewa
    Selain itu, mengedukasi mengenai makna filosofis setiap motif sehingga penenun mampu menceritakan nilai budaya produknya. Alfonsa juga melakukan pelatihan desain agar produk tradisional dapat dikembangkan sesuai kebutuhan pasar tanpa menghilangkan identitas budaya.

    Alfonsa juga membentuk kelompok usaha perempuan agar produksi dan pemasaran tenun lebih terorganisasi. Kemudian mengintegrasikan tenun dengan pariwisata budaya.

    2. Anitawati
    Anitawati merupakan pegiat budaya dan penggagas revitalisasi Tenun Tidore (Puta Dino Kayangan) yang sempat hilang lebih dari 100 tahun di Tidore, Maluku Utara. Berbekal riset arsip sejarah, penelusuran jejak penenun dan temuan alat tenun kuno, Anitawati merekonstruksi teknik, motif, dan filosofi tenun sebagai identitas budaya Kesultanan Tidore.

    Melalui pelatihan menenun, pendampingan usaha, serta pemberdayaan perempuan, pemuda, pelajar dan warga binaan rutan, Anitawati tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi berbasis industri kreatif.

    Kandidat DPD RI Awards kategori budaya Anitawati (Foto: dok. Istimewa)
    Anitawati mengembangkan motif-motif yang mengangkat sejarah Tidore sebagai Spice Islands, menjadikan tenun sebagai media edukasi sejarah dan diplomasi budaya.

    Dia juga membawa tenun Tidore tampil di berbagai ajang internasional, antara lain Indonesia New York Fashion Week (2022), Kyoto (2023), Cape Town (2023), Paris (2024), dan Rabat (2024), serta berhasil menembus pasar ekspor melalui outlet di Hamburg, Jerman.

    3. Cletus Beru
    Cletus Beru merupakan pelopor dan pelestari budaya di Desa Umauta hingga menjadi desa wisata di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dia mengembangkan model wisata budaya berbasis masyarakat adat, mengedepankan gotong royong, dan mendorong wisata berkelanjutan.

    Kandidat DPD RI Awards kategori budaya Cletus Beru (Foto: dok. Istimewa)
    Cletus Beru menghubungkan budaya dengan ekonomi kreatif desa. Dia juga aktif memperjuangkan akses dan perhatian pemerintah terhadap desa wisata budaya di Kabupaten Sikka.

    Berkat dedikasinya, Cletus Beru membawa Desa Umauta masuk 100 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, dan 50 Besar ADWI 2022.

    4. Endang Dzunuraini
    Endang Dzunuraini merupakan pendiri Sanggar Mbah Guru, pusat komunitas pelestarian batik yang memberdayakan perempuan pedesaan dan seniman lokal di Lamongan, Jawa Timur. Melalui Sanggar Mbah Guru, para pengrajin batik desa di Lamongan berhasil kembali dihidupkan setelah sempat punah.

    Endang membuka wisata edukasi belajar membatik lengkap hingga kunjungan ke kebun pewarna alam. Sanggar Mbah Guru memiliki kebun budidaya berisi sekitar 100 jenis tanaman mengandung tanin pewarna alam sebagai laboratorium hidup sekaligus kebun pewarna alam percontohan yang terintegrasi dengan eco edu culture tourism.

    Kandidat DPD RI Awards kategori budaya Endang Dzunuraini. (Foto: dok. Istimewa)
    Sanggar Mbah Guru memproduksi batik dengan menggunakan pewarna alami dari tanaman yang bisa diregenerasi dan juga berinovasi mengolah limbah pertanian menjadi pewarna alami batik.

    Lewat Sanggar Mbah Guru, Endang memberdayakan kaum perempuan desa hingga mengurangi pernikahan dini, KDRT dan perceraian karena masalah ekonomi.

    5. Juwandi
    Juwandi merupakan penggerak yang menjadikan Desa Budaya Bukit Batu sebagai pusat pelestarian budaya Melayu di Kabupaten Bengkalis, Riau. Dia merangkum anak-anak muda untuk menjaga dan mengembangkan budaya Melayu di Bengkalis.

    Berbagai tradisi, seni, dan sejarah lokal dihidupkan melalui kolaborasi Pentahelix: Festival Budaya Bukit Batu, Festival Sungai Bukit Batu, pengembangan Kampung Tenun, pertunjukan seni Melayu, diskusi sejarah, membentuk sanggar serta pelibatan masyarakat dan generasi muda.

    Kandidat DPD RI Awards kategori budaya Juwandi. Foto: dok. Istimewa
    Gerakan ini juga menjadikan budaya sebagai sumber kebanggaan, kreativitas, pendidikan, pariwisata dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Bahkan Tenun Bukit Batu telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2022 oleh Kementerian Kebudayaan.

    Desa Budaya Bukit Batu berhasil meraih berbagai prestasi di tingkat provinsi dan nasional serta memperoleh dukungan dana dari Kementerian Kebudayaan secara berturut-turut (2024-2026). Jejaring budaya dan akademik yang dibangun mulai menjangkau Jepang (2023-2026).

    6. Leni Febrianti
    Leni Febrianti adalah penggagas dan pemegang hak cipta Batik Kagano untuk menghadirkan identitas budaya Bengkulu Utara, yang bersumber dari kekayaan alam dan karakter daerah. Batik Kagano diluncurkan pada tahun 2019.

    Batik Kagano lahir dari gagasan untuk menghadirkan identitas budaya Bengkulu Utara dan dikembangkan dengan mengangkat Kacamata Enggano dan Rafflesia Kemumu sebagai inspirasi utama motif. Batik Kagano mengubah kekayaan lokal menjadi identitas visual yang dapat dikenali, digunakan, dan diwariskan.

    Kandidat DPD RI Awards kategori budaya Leni Febrianti. Foto: dok. Istimewa
    Batik Kagano juga digunakan sebagai seragam resmi pemerintah dan sekolah di wilayah Bengkulu Utara, sehingga identitas budaya tidak hanya dipamerkan dalam kegiatan seremonial, tapi menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

    Kontribusi Batik Kagano tidak berhenti pada penciptaan motif, identitas menjadi fondasi bagi pengembangan ekosistem pelestarian budaya melalui pelatihan perajin, desa binaan, pendidikan, pemberdayaan kelompok masyarakat, pengembangan UMKM, hingga pengenalan budaya ke tingkat internasional.

    7. Maulana Muhammad Syuhada
    Sejak tahun 2002, Maulana Muhammad Syuhada aktif melestarikan dan mempromosikan angklung di berbagai belahan dunia. Dia mendirikan berbagai grup angklung dan kesenian tradisional di antaranya Angklung Hamburg Orchestra (2002), Sabilulungan (2003), Lancaster High School Angklung Orchestra (2006), Lancaster University Angklung Orchestra (2007), Angklung Manchester (2009).

    Kandidat DPD RI Awards kategori budaya Maulana Muhammad Syuhada. (Foto: dok. Istimewa)
    Kemudian pada tahun 2015, Maulana mendirikan Tim Muhibah Angklung (TMA) dan sudah melakukan 6 kali misi budaya ke Eropa (2016, 2018, 2022), Australia (2018, 2025), USA (2022) dan Timur Tengah (2024). Dalam 10 tahun terakhir, TMA sudah berpartisipasi dalam berbagai festival internasional di berbagai negara seperti Skotlandia, Belgia, Republik Ceko, Polandia, Bulgaria, Turki, Bosnia-Herzegovina, Amerika Serikat, Portugal, Spanyol dan Australia.

    Maulana juga melakukan “Flash Mob Angklung” di berbagai landmark dunia seperti Port of Hamburg (2016); Queen Street Mall, Brisbane (2018); Basilica, Budapest (2018); Times Square, New York (2022); Mushrif Mall, Abu Dhabi (2024); Australian Museum, Sydney (2025).

    Pada tahun 2007, membuat buku “40 Days in Europe: Kisah Kelompok Musik Indonesia menaklukkan daratan Eropa”, buku tentang perjalanan Tim Expand The Sound of Angklung ke tujuh negara Eropa tahun 2004. Tahun 2016, mengangkat perjalanan TMA ke Eropa dalam sebuah film dokumenter berjudul “The Journey: Angklung Goes To Europe”, film dokumenter layar lebar pertama tentang angklung.

    Maulana mendirikan Angklung Centre, sebuah platform online yang bertujuan untuk melayani berbagai kebutuhan masyarakat akan angklung, baik di dalam maupun luar negeri. Angklung Centre juga berfungsi sebagai pusat pengetahuan tentang angklung, pusat database angklung, pusat informasi dan kegiatan angklung, pusat penjualan dan distribusi angklung.

    8. Mugiyono Kasido
    Mugiyono Kasido merupakan maestro seniman tari, baik sebagai penari maupun koreografer tari yang dipentaskan di berbagai kota di Indonesia dan mancanegara. Mugiono menelurkan sejumlah karya seni tari yang fenomenal.

    Pertama karya “Mencari Mata Candi” pada 2003, yang menggabungkan vokabuler gerak tarian Siwa dalam panel relief Candi Prambanan dengan tari topeng Jawa, wayang dan gerakan tari modern. Karya ini dipentaskan di Kunsten Festival des Arts, Brussels, Belgia; Lincoln Center Festival, New York USA; Gothenburg Festival, Swedia; dan Centre National de la Danse, Perancis.

    Kandidat DPD RI Awards kategori budaya Mugiyono Kasido. Foto: dok. Istimewa
    Kedua “Kabar Kabur”, karya yang membiaskan batas tari, teater, dan pantomim. Hanya dengan kostum berupa kaos dan celana pendek warna putih, Mugiyono mengungkapkan kejadian kekacauan informasi atau hoax pasca kerusuhan 1998. Sejak tahun 2000-2024, karya ini dipentaskan 138 kali di 25 negara, 5 benua.

    Ketiga “Bima Suci” tahun 2011, karya yang dipentaskan di Taman Mini Indonesia Indah. Mugiyono menari dan mengkoreografi selama 36 jam 36 menit 36 detik nonstop dengan live musik gamelan tradisional dan kontemporer.

    Keempat “Bagaspati”, karya yang memadukan tari topeng Jawa tunggal dengan gerak sufi memutar. Karya ini dipentaskan 30 kali di 11 negara Eropa, Asia, USA sejak tahun 2001 hingga 2011.

    Kelima karya “Kosong”, yang menggunakan gamelan sebagai musik dan sekaligus properti menari. Karya ini telah dipentaskan 13 kali di lima negara pada tahun 1995-1996.

    9. Muhammad Ridwan Alimuddin
    Muhammad Ridwan Alimuddin merupakan peneliti independen yang berdedikasi dalam merevitalisasi kebudayaan bahari Mandar, khususnya perahu tradisional Sandeq. Dia juga Duta Baca Sulawesi Barat dan pendiri Komunitas Bahari Mandar sejak 2006.

    Kandidat DPD RI Awards kategori budaya Muhammad Ridwan Alimuddin. Foto: dok. Istimewa
    Ridwan menginisiasi dan bertindak sebagai kurator program Student on Sandeq (SOS) yang dilaksanakan sejak 2022 sampai 2026, wadah edukatif yang mendekatkan generasi muda pada teknik pembuatan hingga pelayaran perahu tradisional.

    Dia aktif terlibat dalam pelaksanaan festival Sandeq Race untuk merawat marwah dan eksistensi pelaut lokal secara berkelanjutan sejak 2001. Dia juga terlibat dalam pelayaran rekonstruksi historis seperti ekspedisi Padewakang ke Australia (2019-2020) serta mendirikan muse

    10. Poltak Tambunan
    Poltak Tambunan merupakan sastrawan nasional pendiri komunitas sastra etnik Tortor Sangombas, Sumatera Utara. Dia membina para penulis sastra modern dalam bahasa daerah.

    Kandidat DPD RI Awards Poltak Tambunan (Foto: dok. Istimewa)
    Pembentukan Tortor Sangombas bertujuan untuk penyelamatan, pelestarian, dan pengembangan penulisan sastra modern berbahasa Batak.
    Poltak juga membuat sejumlah karya sastra modern dalam bahasa Batak.

    Berkat dedikasinya itu, Poltak Tambunan menjadi inspirasi munculnya sastrawan dalam berbagai bahasa daerah. Dia juga mendapat sejumlah penghargaan mulai dari Batak Center hingga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

  • Pilih 3 Besar DPD RI Awards 2026, Dewan Pakar Pastikan Tak Ada Intervensi

    Pilih 3 Besar DPD RI Awards 2026, Dewan Pakar Pastikan Tak Ada Intervensi


    Jakarta – Dewan Pakar telah memilih tiga besar per kategori DPD RI Awards 2026. Dewan Pakar memastikan independen dan tanpa intervensi dalam pemilihan tersebut.
    Pemilihan 3 besar DPD RI Awards 2026 ditentukan dalam rapat perdana Dewan Pakar di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin (5/10/2026). Sejumlah anggota Dewan Pakar hadir langsung dalam rapat dan yang berhalangan hadir tetap memberikan pandangan serta kontribusi dalam pembahasan.

    Adapun Dewan Pakar DPD Awards 2026 yaitu Menteri Kebudayaan RI Prof (Hon) Dr. H. Fadli Zon, SS, M.Sc, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dr. Dede Yusuf Macan Effendi, S.T., M.I.Pol, Anggota DPD RI Dr. Agustin Teras Narang, S.H, dan Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, S.Si., M.Sc.

    Anggota Dewan Pakar, Agustin Teras Narang, menyebut masing-masing kategori DPD RI Awards 2026 ini memiliki spesifikasi penilaian tersendiri. Namun tak kalah penting bagi Dewan Pakar adalah kebermanfaatan inovasi atau dedikasi dari kandidat bagi pemerintah daerah, khususnya masyarakat.

    “Sehingga ada suatu semangat di dalam rangka untuk mengembangkan apakah itu dalam bidang pendidikan, bidang kesehatan, terutama yang menyangkut masalah-masalah inovasi yang menggerakkan kehidupan bersama,” kata Teras Narang usai rapat.

    Dia mengungkap sejumlah perdebatan Dewan Pakar untuk memilih 3 besar DPD RI Awards 2026 karena para kandidat memiliki dedikasi dan inovasi yang sangat bagus. Namun untuk menentukan 3 besar, dia harus memilih yang terbaik dari yang bagus tersebut.

    “Jujur saya katakan semuanya baik, bagus. Jadi perdebatan itu bukan berarti perdebatan yang tidak konstruktif tapi perdebatan yang betul-betul berdasarkan pada apa yang harus kita lakukan, karena pemikiran-pemikiran kita para pakar itu sejauh mana kepentingan-kepentingan daerah itu terwujud nyata, dan dampaknya bagaimana,” ucapnya.

    Lebih jauh, Teras Narang memastikan para Dewan Pakar independen dan tanpa intervensi dalam memilih 3 besar per kategori DPD Awards 2026. Menurutnya, 5 Dewan Pakar DPD RI Awards 2026 memilih kandidat yang berkualitas dan berdampak bagi perkembangan di daerahnya masing-masing.

    “Kami ini masing-masing punya etik. Jadi tanpa ada aturan atau larangan apapun, kami sudah punya etika siapa yang harus kami pilih, karena kami merasa bahwa yang kami pilih ini adalah orang-orang yang betul-betul punya kapasitas, punya kualitas dan kapabilitas, yang paling penting itu kemanfaatan bagi perkembangan ilmu, perkembangan dunia pendidikan-kesehatan dan kemudian masalah pangan,” ujarnya.

    Seperti diketahui, dalam DPD RI Awards 2026 ada 4 kategori penghargaan, yakni Inovator Pendidikan Non-Formal/Pendidikan Luar Sekolah, Inovator Teknologi Kesehatan, Penggerak Desa Mandiri Pangan dan Pelestari Budaya Daerah. Berikut ini daftar 3 besar DPD RI Awards 2026:

    1. KATEGORI PELESTARI BUDAYA DAERAH
    * Anitawati (Maluku Utara)
    * Endang Dzunuraini (Jawa Timur)
    * Muhammad Ridwan Alimuddin (Sulawesi Barat)

    2. KATEGORI PENGGERAK DESA MANDIRI PANGAN
    * Asep Hidayat Mustopa (Jawa Barat)
    * Anang Ismail (Jawa Tengah)
    * Rivan Rinaldi (Aceh)

    3. KATEGORI INOVATOR TEKNOLOGI KESEHATAN
    * Nur Arning Tengara Kasih (DKI Jakarta)
    * Megi Riomandala (Bengkulu)
    * Siti Nurmaini (Sumatera Selatan)

    4. KATEGORI INOVATOR PENDIDIKAN NON-FORMAL/PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
    * Alvian Wardhana (Kalimantan Selatan)
    * Egi Trialogi (Jawa Barat)
    * Taryaningsih (Jawa Timur)

  • Para Penggerak Ketahanan Pangan di Daerah: Inovasi hingga Pemberdayaan Lokal

    Para Penggerak Ketahanan Pangan di Daerah: Inovasi hingga Pemberdayaan Lokal

    Jakarta – Beragam kontribusi dilakukan oleh 10 besar kandidat DPD RI Awards 2026 kategori Penggerak Desa Mandiri Pangan. Dedikasi mereka mencakup pemberdayaan potensi lokal hingga inovasi dalam mendorong ketahanan pangan di daerah.
    Tim panitia sebelumnya telah melakukan proses seleksi panjang untuk menentukan 10 besar kandidat DPD Awards 2026. Proses penyaringan dimulai dari seleksi administrasi terhadap seribuan kandidat yang mendaftar.

    Setelah itu, panitia menentukan 50 besar kandidat sebelum akhirnya menyaring kembali hingga terpilih 10 besar kandidat di masing-masing kategori. Untuk kategori ketahanan pangan, mereka yang terpilih berasal dari berbagai daerah dengan kontribusi yang beragam, dari mulai Aceh, Magelang, hingga Sumbawa.

    Adapun penghargaan ini akan diberikan kepada individu yang menjadi penggerak dalam membangun desa mandiri pangan melalui pemanfaatan potensi pangan lokal, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ketahanan pangan secara berkelanjutan yang memberikan manfaat bagi masyarakat desa.

    Berikut daftar 10 kandidat DPD Awards Kategori Penggerak Desa Mandiri Pangan:

    1. Agus Setiawan

    Agus Setiawan menjadi penggerak kemandirian pangan desa melalui program Desa Berdaya Ikan Lele di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, sejak tahun 2023. Agus, yang merupakan Ketua Gucang Farm, menerapkan sistem budidaya bioflok.

    Bioflok merupakan metode budidaya ikan yang memanfaatkan mikroorganisme untuk mengolah sisa pakan dan kotoran ikan menjadi gumpalan (floc) yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi tambahan bagi ikan. Teknologi bioflok ini membantu meningkatkan efisiensi penggunaan pakan dan air.

    Program Desa Berdaya Lele di Tigaraksa ini menghasilkan sekitar 2 kuintal lele per minggu. Kelompok ternak ini juga sudah memproduksi benih lele sebanyak 1.500.000 ekor per bulan.

    Agus Setiawan/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Selain fokus pada budidaya, masyarakat didorong mengembangkan produk olahan lele dan memperluas akses pemasaran sehingga nilai tambah hasil panen meningkat. Produk olahannya antara lain abon lele, siomay lele, pempek lele, hingga cookies tulang lele.

    2. Ahmad Lafillian Romadhi

    Ahmad Lafilian Romadhi, petani milenial asal Desa Kedungrejo, Kabupaten Jombang, mengembangkan Melonponik Megaluh sejak tahun 2023. Dia menggerakkan desa mandiri pangan melalui budidaya melon premium berbasis hidroponik.

    Ahmad mengubah lahan tidur menjadi kawasan produksi pangan. Dia memadukan greenhouse, sistem hidroponik, dan teknologi smart farming berbasis Internet of Things (IoT) untuk menghasilkan melon premium.

    Ahmad Lafillian/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Program ini telah menggerakkan sekitar 66 warga lain yang terlibat dalam budidaya melon di Jombang. Selain itu, program ini telah direplikasi oleh lebih dari 480 mitra hidroponik di seluruh Indonesia.

    Lewat Smart Greenhouse berbasis Internet of Things (IoT), Melonponik berupaya menjawab persoalan budidaya melon konvensional yang masih rentan terhadap hama. Dalam satu kali panen, greenhouse berukuran 10 × 45 meter dapat menghasilkan omzet hingga Rp 35 juta – Rp 45 juta, dengan frekuensi panen sekitar 5-7 kali setahun.

    3. Anang Ismail

    Anang Ismail adalah Ketua Perkumpulan Peternak Kambing Perah Rojo Koyo Utomo di Dusun Jengglik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dia berperan sebagai penggerak utama kemandirian pangan dan ekonomi masyarakat melalui pengembangan peternakan kambing perah berbasis potensi lokal.

    Kelompok ternak ini menjadi wadah pembinaan, peningkatan keterampilan, dan pengembangan usaha. Rojo Koyo Utomo telah menghimpun peternak di sekitar 65 desa yang tersebar di tiga kabupaten, yaitu Magelang, Temanggung, dan Wonosobo.

    Anang Ismail/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Anang meningkatkan kapasitas peternak melalui pelatihan, pendampingan, bimbingan teknis, dan penerapan Good Farming Practices. Dia juga mendorong penggunaan bibit dan indukan unggul untuk meningkatkan kualitas ternak serta produktivitas susu.

    Untuk meningkatkan nilai jual, Anang bersama kelompok ternak mengembangkan unit pengolahan susu kambing, termasuk produk susu kambing pasteurisasi berkualitas.

    4. Asep Hidayat Mustopa

    Asep Hidayat Mustopa atau Abah Asep adalah penggagas Desa Wisata Hanjeli di Waluran Mandiri, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dia melestarikan tanaman lokal hanjeli yang bijinya dapat diolah menjadi beras hanjeli, tepung, bubur, dan berbagai makanan olahan lainnya.

    Desa Wisata Hanjeli telah berdiri sejak tahun 2015. Di desa wisata ini, para tamu bisa mempelajari sejarah hanjeli-biji-bijian kuno yang dulu hampir punah-sambil mencicipi beragam olahan tradisional seperti bubur hanjeli, nasi liwet hanjeli, peuyeum hanjeli, hingga rengginang hanjeli.

    Asep Hidayat/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Program Asep ini telah melibatkan lebih dari 150 warga. Asep juga memberdayakan perempuan, kelompok tani, hingga mantan pekerja migran Indonesia (PMI) di Desa Wisata Hanjeli.

    Desa Wisata Hanjeli mampu menghasilkan lebih dari 20 ton panen yang diolah menjadi berbagai produk pangan dan turunan. Secara ekonomi, kegiatan ini mampu menciptakan perputaran omzet hingga ratusan juta rupiah per tahun.

    5. Daryono

    Daryono mengembangkan Pertanian Berkelanjutan Untir Kalimian Menyala Hijau Lestari bersama Kelompok Tani Kokar Bantan II di Desa Mokong, Moyo Hulu, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Inovasi ini bermula dari rendahnya produktivitas lahan kering tadah hujan akibat keterbatasan air.

    Sejak 2012, masyarakat secara swadaya memanfaatkan sumur bor, kolam penampung, dan aliran sungai untuk mengairi lahan. Pada 2023, Daryono mengembangkan sistem irigasi pompaisasi listrik yang membuat akses air menjadi lebih mudah, murah, dan berkelanjutan.

    Daryono/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Dampak dari pompaisasi listrik ini, lahan yang sebelumnya hanya dapat ditanami sekali dalam setahun kini dapat dimanfaatkan hingga empat kali masa tanam. Biaya pengairan turun hingga Rp 485.000 per hektare per musim tanam, sementara lahan seluas 80,7 hektare yang sebelumnya bergantung pada musim hujan kini dapat dimanfaatkan sepanjang tahun.

    Sistem irigasi ini sudah diterapkan di lebih dari 180 titik pada 37 desa dan 16 kecamatan di Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat. Selain meningkatkan ketahanan pangan, Daryono menunjukkan bahwa pengelolaan air berbasis masyarakat dapat menjadi model pertanian berkelanjutan di wilayah lahan kering.

    6. Ella Rizki Farihatul Maftuhah

    Ella Rizki Farihatul Maftuhah menggerakkan ketahanan pangan desa dengan mengembangkan Kelompok Wanita Tani (KWT) Nira Lestari di Desa Trenten, Kabupaten Magelang. Program ini bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat desa, khususnya perempuan, dengan mengolah hasil kelapa menjadi produk gula semut.

    Inovasi gula semut ini hadir karena harga gula batok relatif lebih rendah. Ella menggagas program ini sejak tahun 2012 dan kini telah memiliki 90 anggota.

    Ella Rizki/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Program ini kemudian berkembang dari pemberdayaan masyarakat menjadi usaha agroindustri berorientasi ekspor. PT Nira Lestari International memproduksi dan memasarkan gula semut dengan merek sendiri, salah satunya Golden Nira. Pada Agustus 2023, perusahaan berhasil mengekspor gula semut ke Malaysia.

    Selain gula semut, Nira Lestari mengembangkan produk berbasis kelapa lainnya seperti virgin coconut oil (VCO). Model pemberdayaan ini menjadikan potensi kelapa sebagai sumber nilai ekonomi dan kemandirian pangan desa.

    7. Filza Sigit Pratama

    Filza Sigit Pratama menciptakan inovasi ketahanan pangan melalui Lutan Agrofarm di Kampung Lutan, Kecamatan Long Hubung, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Dia mengembangkan konsep mini food estate seluas 21 hektare yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.

    Di sektor pertanian, Lutan Agrofarm mengembangkan padi gunung dan 13 komoditas hortikultura. Sektor peternakan mencakup sekitar 5.000 ekor ayam petelur dan penggemukan sapi, sementara sektor perikanan menggunakan sistem bioflok melalui delapan kolam untuk budidaya ikan nila dan lele.

    Filza Sigit/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Produksi hortikultura menghasilkan omzet rata-rata sekitar Rp 85,52 juta per bulan, sedangkan ayam petelur menghasilkan sekitar 4.550 butir telur per hari. Lutan Agrofarm juga membangun kemitraan dengan masyarakat dan kelompok tani di sekitar kawasan.

    Kemitraan dengan 13 kelompok tani yang melibatkan 169 orang menghasilkan sekitar 18 ton jagung pipil per bulan untuk memenuhi kebutuhan pakan ayam. Selain itu, program kemitraan ayam petelur memberikan masing-masing 100 ekor ayam kepada 20 keluarga prasejahtera. Inovasi Filza ini turut mendorong transformasi Kampung Lutan dari desa tertinggal pada 2021 menjadi desa mandiri pada 2025.

    8. Jumali Wahyono Perwito

    Jumali Wahyono Perwito menggagas Desa Wisata Durian Pogog. Dia mengubah Desa Pogog, Puhpelem, Wonogiri, dari wilayah yang dahulu tandus menjadi sentra durian unggulan sekaligus destinasi wisata berbasis pertanian.

    Pengembangan Durian Pogog menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, mulai dari proses budidaya hingga pengembangan wisata. Panen perdana pada tahun 2015 menjadi momentum awal durian Pogog dikenal luas.

    Jumali/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Aksi yang dilakukan Jumali menjadikan Desa Pogog sebagai salah satu destinasi wisata berbasis durian yang menarik ribuan pengunjung setiap musim panen. Sejak panen perdana pada 2015 hingga 2026, sekitar 60.000 bibit durian unggulan telah ditanam di kawasan Pogog.

    Status sebagai desa wisata turut mendorong kenaikan harga tanah dan memperluas aktivitas ekonomi warga. Jumali berhasil menjadi penggerak sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri masyarakat untuk memanfaatkan pertanian sebagai sumber mata pencaharian utama.

    9. Rivan Rinaldi

    Rivan Rinaldi membangun ‘Rumoh Pangan Aceh’ untuk mengembangkan kacang koro pedang sebagai alternatif pangan lokal. Program ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada kedelai impor.

    Program ini diinisiasi Rivan karena kacang koro pedang memiliki kandungan gizi yang baik serta harga yang lebih kompetitif. Produktivitas kacang koro pedang juga berpotensi lebih tinggi dibandingkan kedelai.

    Awalnya, Rumoh Pangan Aceh mengelola 8 hektare lahan dengan 15 petani. Kini, program tersebut berkembang menjadi 28 hektare dengan keterlibatan sekitar 150 petani di delapan kabupaten/kota di Aceh. Kapasitas produksi pun meningkat dari 10 kg menjadi 200 kg per hari.

    Rivan/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Hasil produksi telah mencapai lebih dari 25.000 produk dan menjangkau lebih dari 20.000 konsumen di Banda Aceh dan Aceh Besar. Pemasaran dilakukan melalui empat pasar modern, 21 kanal pasar tradisional, dua SPPG MBG, dan dua sekolah. Program ini turut membuka 20 lapangan kerja, termasuk bagi 14 perempuan di dua desa.

    10. Taufiq Supriadi

    Taufiq Supriadi menciptakan Survival Architecture Indonesia/Eco EduFarm, sebuah model ketahanan pangan perkotaan yang dikembangkan bersama warga RT 08/RW 04 Malaka Jaya, Jakarta Timur, sejak Oktober 2023. Taufiq merupakan ketua RT setempat.

    Taufiq mengubah ruang terbatas di kawasan permukiman-seperti gang, dinding, pagar, halaman, area komunal, hingga saluran U-ditch-menjadi infrastruktur pangan. Pengembangannya mengintegrasikan budidaya ikan, tanaman produktif, hidroponik, akuaponik, ayam petelur, maggot, pengolahan sampah organik, pembuatan kompos, konservasi air, dan energi terbarukan.

    Taufiq/Kandidat DPD Awards Kategori Ketahanan Pangan Foto: Dok Ist
    Melalui program Sister Village dan Desa Berdaya, Eco EduFarm berkembang dari inisiatif tingkat RT menjadi model pembelajaran ketahanan pangan perkotaan yang menarik minat kunjungan dan replikasi dari berbagai daerah, termasuk peserta dari Jepang dan China.

    Taufiq bersama warga telah menghimpun 817 tanaman produktif dalam kurun waktu 2 tahun 9 bulan di lingkungan RT 08/RW 04. Dia juga mengembangkan kolam lele double-decker di saluran U-ditch sepanjang 42 meter dengan 5.400 bibit. Panen pada 2026 ini mampu menghasilkan hingga 400 kg lele untuk mendukung pemenuhan asupan protein dan gizi warga.

  • Mereka yang Berjuang untuk Pendidikan di Daerah: Membuka Akses untuk Semua

    Mereka yang Berjuang untuk Pendidikan di Daerah: Membuka Akses untuk Semua

    10 Kandidat DPD RI Awards Bidang Pendidikan (dok. Istimewa)

    Jakarta – Sepuluh kandidat DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Pendidikan Non Formal/Pendidikan Luar Sekolah melakukan berbagai upaya untuk memperluas jangkauan pendidikan di daerah. Para kandidat menjadi penggerak pendidikan untuk anak di daerah tertinggal hingga mendirikan sekolah alam.
    Sebanyak 10 kandidat ini telah ditentukan oleh panitia seleksi DPD Awards 2026. Proses penyaringan dimulai dari seleksi administrasi terhadap seribuan kandidat yang mendaftar.

    Panitia kemudian menentukan 50 besar kandidat sebelum akhirnya menyaring kembali hingga terpilih 10 besar kandidat di masing-masing kategori. Pada kategori bidang pendidikan ini, penghargaan akan diberikan kepada individu yang memiliki dedikasi dan berkontribusi dalam pendidikan nonformal.

    “Penghargaan diberikan kepada Inovator Pendidikan Nonformal/Pendidikan Luar Sekolah yang berdedikasi dalam mengembangkan pendidikan nonformal dan memperluas kesempatan belajar bagi masyarakat,” tulis DPD RI dalam laman resminya, seperti dilihat detikcom, Rabu (7/10/2026).

    Berikut sosok kandidat Inovator Pendidikan Non Formal/Pendidikan Luar Sekolah yang diurutkan berdasarkan abjad:

    1. Afakhrul Masub Bakhtiar
    Afakhrul Masub Bakhtiar adalah kandidat asal Gresik, Jawa Timur. Afakhrul menjadi pendiri Sekolah Ndeso, di sebuah desa di Gresik, Jawa Timur, pada tahun 2017. Sekolah Ndeso menerapkan model pendidikan kontekstual yang berakar pada kearifan lokal namun berorientasi pada masa depan.

    Sekolah Ndeso bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan sebuah ekosistem pengetahuan yang menyatukan tradisi, budaya, dan praksis atau pelaksanaan suatu teori ke dalam bentuk tindakan nyata di kehidupan sehari-hari.

    Kandidat DPD RI Awards Afakhrul Masub Bakhtiar Foto: dok. Istimewa
    Filosofi Sekolah Ndeso sederhana tapi mendalam: dari akar lahir harapan, dari harapan tumbuh masa depan yang bermartabat. Landasan pembelajaran Sekolah Ndeso adalah metode TAR (Tumbuhkan, Alami, Rayakan).

    Konsep belajar Sekolah Ndeso menyentuh empat dimensi utama: Laku sebagai praktik nyata budaya pangan, Ingatan yang memperkuat memori kolektif, Doa yang menanamkan nilai syukur, serta Inovasi yang menjembatani tradisi dengan kreasi generasi muda.

    2. Alvian Wardhana
    Alvian Wardhana mendirikan Literasi Anak Banua pada tahun 2018. Literasi Anak Banua berfokus pada pemberdayaan anak serta pemuda adat melalui pendidikan di wilayah terpencil Kalimantan Selatan (Kalsel).

    Pendirian Literasi Anak Banua berangkat dari persoalan buta huruf, keterbatasan akses pendidikan, ketidaksesuaian kurikulum dengan konteks masyarakat adat serta kerentanan terhadap perubahan iklim.

    Kandidat DPD RI Awards Alvian Wardhana Foto: dok. Istimewa
    Sejumlah program pun dikembangkan, di antaranya bimbingan belajar dan literasi-numerasi, pendidikan iklim, pembangunan perpustakaan mini, pemberdayaan pemuda adat, inkubator iklim Meraki, SAFE for Gender and Climate serta Pelatihan Advokasi Pembaharu Muda Kalimantan Selatan.

    Program-program itu menggabungkan pendidikan, pengembangan kapasitas, kewirausahaan, advokasi, kesetaraan gender dan pemecahan masalah lingkungan. Praktiknya melibatkan pelajar-guru, pemuda adat, komunitas lokal serta berbagai mitra seperti UNICEF, UNESCO, Plan International, hingga Rockefeller Foundation.

    3. Egi Trialogi
    Egi Trialogi merupakan seorang guru honorer dan tutor pendidikan kesetaraan asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat (Jabar). Dia mendirikan sekolah anak jalanan bernama Pustaka Raharja di Majalengka.

    Lewat Pustaka Raharja, Egi mengintegrasikan pendidikan kesetaraan, pembentukan karakter dan pemberdayaan ekonomi anak jalanan. Dia menyediakan sistem pembelajaran nonformal yang fleksibel dan berlandaskan kearifan lokal guna memutus rantai kerentanan sosial-ekonomi.

    Kandidat DPD RI Awards 2026 Egi Trialogi (Foto: dok. Istimewa)
    Egi membuka dan menggerakkan usaha yang dikelola langsung oleh peserta didik dengan bimbingan operasional, pelayanan, dan keuangan. Berikut ini unit usaha yang dikelola dan dijalankan anak didik Egi Trialogi:

    – Angkringan Senja: Layanan kuliner malam yang merakyat.
    – Dapoer Senja: Olahan pangan lokal dan katering.
    – Nusantara Steam: Pelatihan jasa perawatan kendaraan.
    – Toko Sayuran Berkah Nusantara: Tata kelola ritel dan distribusi bahan pangan segar.

    4. Fatmawati Arisuddin
    Fatmawati Arisuddin menggagas program Tukar Sampah dengan Ijazah Kesetaraan sejak tahun 2019. Program ini merangkul masyarakat prasejahtera di Mamuju Tengah, Sulawesi Barat (Sulbar), dengan mengintegrasikan pendidikan kesetaraan, pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sampah.

    Program Tukar Sampah dengan Ijazah Kesetaraan menyediakan pendidikan Paket A, B, dan C secara gratis. Fatmawati juga mengajak warga mengumpulkan sampah plastik dan botol bekas yang diolah menjadi material pengganti batu bata untuk membangun fasilitas pendidikan.

    Kandidat DPD RI Awrads Fatmawati Arisuddin Foto: dok. Istimewa
    Kemudian gerakan ini diperluas melalui Program Keaksaraan Dasar dan Keaksaraan Usaha Mandiri bagi masyarakat yang belum mampu membaca, menulis, dan berhitung. Ada juga program Tukar Sampah dengan Beasiswa Kuliah untuk membantu lulusan Paket C melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

    Program-program yang dijalankan Fatmawati Arisuddin ini menghubungkan pendidikan, pelestarian lingkungan, kemandirian masyarakat dan gotong royong dalam satu ekosistem pemberdayaan desa.

    5. Gusti Mohammad Hamdan Firmanta
    Gusti Mohammad Hamdan Firmanta merupakan pendiri Kawan Netra, lembaga pendidikan untuk pendampingan tunanetra yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur, sejak tahun 2021. Kawan Netra menjalankan program Gerakan Tunanetra Mengaji (GTM) dan Buta Digital (BD).

    Program GTM digagas berangkat dari angka buta huruf Quran Braille (QB) di kalangan tunanetra muslim Indonesia yang cukup tinggi, yakni mencapai 95%. Mereka hafal Al Quran dan mahir qiroah, tapi untuk membacanya karena tak mampu.

    Kandidat DPD RI Awards Gusti Mohammad Hamdan Firmanta Foto: dok. Istimewa
    Program ini menjadi support system pendidikan baca tulis QB yang memastikan pembelajaran berjalan dengan baik dan berkelanjutan. Di dalamnya terdapat pelatihan guru QB, Kegiatan Belajar Mengaji, Festival Tunanetra Mengaji dan kerelawanan.

    Sementara program BD merupakan program bimbingan dan pelatihan literasi digital bagi tunanetra agar bisa mandiri dan mengoperasikan platform digital. Dengan program ini, para tunanetra bisa menguasai sejumlah flat form digital dan bisa menghindarkan mereka dari penipuan.

    6. Kanaya Malika Amanda
    Kanaya Malika Amanda adalah kandidat berasal dari Kabupaten Bungo, Jambi. Dia merupakan penggagas dan penggerak program Edukasi Berjalan, yakni gerakan youth changemaker yang merangkum perjalanan 8 tahun Kanaya sebagai pendidik pemuda dan anak. Gerakan ini berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam memajukan pendidikan masyarakat marjinal.

    Inisiatif ini lahir dari minimnya pembangunan serta inovasi pendidikan oleh pemerintah daerah yang jarang melibatkan pemuda. Bergerak secara independen, Kanaya menggerakkan anak muda untuk merangkul, berbagi dan menginspirasi anak-anak dari komunitas rentan demi menciptakan akses pendidikan yang setara.

    Kandidat DPD RI Awards Kanaya Malika Amanda Foto: dok. Istimewa
    Hingga kini, Kanaya telah memimpin lebih dari 253 program pendidikan langsung bagi anak dan pemuda yang mencakup isu hak asasi manusia, lingkungan (sampah dan iklim), pemberdayaan perempuan, keamanan digital, pencegahan kekerasan dengan metode pendidikan sistem thinking (pendidikan bagaimana dunia bekerja: politik, ekonomi, sosial).

    Lewat program-program youth changemakers, gerakannya telah berdampak langsung pada 28.575 orang di 11 kota dan 2 negara, serta menjangkau partisipasi daring hingga ke 10 negara di tingkat lokal hingga internasional.

    7. Sofian
    Sofian mendirikan Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL), wadah pendidikan konservasi bunga puspa langka Bengkulu atau Rafflesia, sejak tahun 2010. KPPL didirikan berawal dari keprihatinan terhadap rendahnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian Rafflesia.

    Melalui KPPL, Rafflesia dijadikan sebagai media pembelajaran dan pintu masuk pendidikan lingkungan. Edukasi dilakukan melalui kegiatan pengenalan Rafflesia, pembelajaran langsung di habitat, ekspedisi, pengamatan, dokumentasi, kampanye konservasi, edukasi ke sekolah, komunitas, serta pemanfaatan media digital.

    Kandidat DPD RI Awards Sofian Foto: dok. Istimewa
    Pendekatan ini membuat pendidikan tidak hanya berlangsung secara teoritis, tetapi memberikan pengalaman nyata kepada masyarakat untuk mengenal, memahami, mencintai, dan menjaga kekayaan alam di sekitarnya. Kegiatan ini menempatkan masyarakat sebagai subjek sekaligus pelaku pendidikan konservasi Rafflesia.

    Pengetahuan yang diperoleh diarahkan menjadi kepedulian dan aksi nyata, seperti menjaga habitat Rafflesia, menyebarkan informasi konservasi, menerapkan etika saat berada di lokasi puspa langka, serta mengajak masyarakat lain untuk turut melestarikannya.

    8. Sri Wahyaningsih
    Sri Wahyaningsih merupakan inisiator Sanggar Anak Alam (SALAM), “Laboratorium Pendidikan” untuk melayani anak-anak dari jenjang PAUD hingga SMA. SALAM diinisiasi pada tahun 1988 di Desa Lawen, Banjarnegara, sebagai respons terhadap tingginya angka putus sekolah dan pernikahan dini.

    Kemudian, SALAM mengembangkan pendekatan “sekolah hadap masalah”, yaitu pembelajaran berbasis pengalaman nyata, pengamatan lingkungan, diskusi, riset, dan pencarian solusi bersama. Sejak 2000, pendekatan itu dikembangkan di SALAM, Nitiprayan, Bantul, melalui PKBM yang mendampingi anak usia dini hingga setara SMA.

    Kandidat DPD RI Awards Sri Wahyaningsih Foto: dok. Istimewa
    Proses belajar tidak berbasis mata pelajaran, tetapi riset sesuai minat anak dengan empat pilar utama, yaitu pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya, yang kemudian ditambah dengan energi.

    Melalui SALAM, proses belajar dibebaskan dari dinding kelas yang kaku dan teks hafalan. SALAM menjadikan lingkungan sekitar, potensi lokal serta peristiwa sehari-hari di masyarakat sebagai media utama pembelajaran.

    Belajar tidak lagi diartikan sebagai persiapan untuk ujian, melainkan proses mengalami dan memahami kehidupan itu sendiri secara kontekstual. SALAM membuktikan bahwa komunitas lokal mampu mengelola pendidikan yang inklusif, humanistis, dan memberdayakan tanpa harus bergantung penuh pada standardisasi kaku.

    9. Taryaningsih
    Taryaningsih mendirikan Kawasan Inklusif sebagai wadah pendidikan nonformal bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Kawasan Inklusif dibangun pada tahun 2019, inovasi pertama di Indonesia yang menghabiskan dana Rp 3 miliar lebih.

    Lewat Kawasan Inklusif, para penyandang disabilitas diberikan bekal keterampilan vokasi untuk mencetak disabilitasmart. Para penyandang disabilitas juga diajari langsung hidup berdampingan di masyarakat (bersosialisasi dengan non disabilitas).

    Kandidat DPD RI Awards Taryaningsih Foto: dok. Istimewa
    Pembangunan Kawasan Inklusif ini bertujuan untuk memberikan kesempatan pada disabilitas dan kelompok rentan untuk mempunyai rumah sendiri. Program ini membantu menciptakan infrastruktur yang ramah disabilitas (rumah dengan desain khusus).

    Taryaningsih juga berupaya menciptakan usaha untuk disabilitas dan memudahkan pemasaran karena menjadi satu sentra usaha (kawasan produktif).

    Layanan umum di kawasan ini didesain secara khusus agar aksesibel untuk disabilitas. Jalan juga dirancang khusus untuk disabilitas ada jalur kursi roda dan guiding block untuk disabilitas netra.

    10. Yudhi Hari Wibowo
    Yudhi Hari Wibowo merupakan inisiator ASN Mengajar, yakni gerakan nasional yang berawal dari pengalaman mengajar secara sukarela sejak 2017. Program ASN Mengajar dijalankan dan dipimpin Yudhi sejak 2022.

    Gerakan ini mengajak ASN di berbagai wilayah Indonesia berperan dalam pemerataan pendidikan bagi masyarakat prasejahtera melalui pendidikan formal, nonformal, dan informal.

    Kandidat DPD RI Awards Yudhi Hari Wibowo Foto: dok. Istimewa
    ASN Mengajar menjalankan kegiatan pengajaran rutin, bantuan pendidikan, kelas minat dan bakat, kewirausahaan kreatif remaja, outing class, serta beasiswa dan bantuan perlengkapan sekolah.

    Kini, gerakan ini berbadan hukum sebagai Yayasan Pendidikan Dewantara Muda dan memiliki jaringan di enam wilayah binaan, yaitu Tangerang Selatan, Banda Aceh, Samarinda, Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta Utara.

  • Mereka yang Berjuang untuk Pendidikan di Daerah: Membuka Akses untuk Semua

    Mereka yang Berjuang untuk Pendidikan di Daerah: Membuka Akses untuk Semua

    10 Kandidat DPD RI Awards Bidang Pendidikan (dok. Istimewa)

    Jakarta – Sepuluh kandidat DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Pendidikan Non Formal/Pendidikan Luar Sekolah melakukan berbagai upaya untuk memperluas jangkauan pendidikan di daerah. Para kandidat menjadi penggerak pendidikan untuk anak di daerah tertinggal hingga mendirikan sekolah alam.
    Sebanyak 10 kandidat ini telah ditentukan oleh panitia seleksi DPD Awards 2026. Proses penyaringan dimulai dari seleksi administrasi terhadap seribuan kandidat yang mendaftar.

    Panitia kemudian menentukan 50 besar kandidat sebelum akhirnya menyaring kembali hingga terpilih 10 besar kandidat di masing-masing kategori. Pada kategori bidang pendidikan ini, penghargaan akan diberikan kepada individu yang memiliki dedikasi dan berkontribusi dalam pendidikan nonformal.

    “Penghargaan diberikan kepada Inovator Pendidikan Nonformal/Pendidikan Luar Sekolah yang berdedikasi dalam mengembangkan pendidikan nonformal dan memperluas kesempatan belajar bagi masyarakat,” tulis DPD RI dalam laman resminya, seperti dilihat detikcom, Rabu (7/10/2026).

    Berikut sosok kandidat Inovator Pendidikan Non Formal/Pendidikan Luar Sekolah yang diurutkan berdasarkan abjad:

    1. Afakhrul Masub Bakhtiar
    Afakhrul Masub Bakhtiar adalah kandidat asal Gresik, Jawa Timur. Afakhrul menjadi pendiri Sekolah Ndeso, di sebuah desa di Gresik, Jawa Timur, pada tahun 2017. Sekolah Ndeso menerapkan model pendidikan kontekstual yang berakar pada kearifan lokal namun berorientasi pada masa depan.

    Sekolah Ndeso bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan sebuah ekosistem pengetahuan yang menyatukan tradisi, budaya, dan praksis atau pelaksanaan suatu teori ke dalam bentuk tindakan nyata di kehidupan sehari-hari.

    Kandidat DPD RI Awards Afakhrul Masub Bakhtiar Foto: dok. Istimewa
    Filosofi Sekolah Ndeso sederhana tapi mendalam: dari akar lahir harapan, dari harapan tumbuh masa depan yang bermartabat. Landasan pembelajaran Sekolah Ndeso adalah metode TAR (Tumbuhkan, Alami, Rayakan).

    Konsep belajar Sekolah Ndeso menyentuh empat dimensi utama: Laku sebagai praktik nyata budaya pangan, Ingatan yang memperkuat memori kolektif, Doa yang menanamkan nilai syukur, serta Inovasi yang menjembatani tradisi dengan kreasi generasi muda.

    2. Alvian Wardhana
    Alvian Wardhana mendirikan Literasi Anak Banua pada tahun 2018. Literasi Anak Banua berfokus pada pemberdayaan anak serta pemuda adat melalui pendidikan di wilayah terpencil Kalimantan Selatan (Kalsel).

    Pendirian Literasi Anak Banua berangkat dari persoalan buta huruf, keterbatasan akses pendidikan, ketidaksesuaian kurikulum dengan konteks masyarakat adat serta kerentanan terhadap perubahan iklim.

    Kandidat DPD RI Awards Alvian Wardhana Foto: dok. Istimewa
    Sejumlah program pun dikembangkan, di antaranya bimbingan belajar dan literasi-numerasi, pendidikan iklim, pembangunan perpustakaan mini, pemberdayaan pemuda adat, inkubator iklim Meraki, SAFE for Gender and Climate serta Pelatihan Advokasi Pembaharu Muda Kalimantan Selatan.

    Program-program itu menggabungkan pendidikan, pengembangan kapasitas, kewirausahaan, advokasi, kesetaraan gender dan pemecahan masalah lingkungan. Praktiknya melibatkan pelajar-guru, pemuda adat, komunitas lokal serta berbagai mitra seperti UNICEF, UNESCO, Plan International, hingga Rockefeller Foundation.

    3. Egi Trialogi
    Egi Trialogi merupakan seorang guru honorer dan tutor pendidikan kesetaraan asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat (Jabar). Dia mendirikan sekolah anak jalanan bernama Pustaka Raharja di Majalengka.

    Lewat Pustaka Raharja, Egi mengintegrasikan pendidikan kesetaraan, pembentukan karakter dan pemberdayaan ekonomi anak jalanan. Dia menyediakan sistem pembelajaran nonformal yang fleksibel dan berlandaskan kearifan lokal guna memutus rantai kerentanan sosial-ekonomi.

    Kandidat DPD RI Awards 2026 Egi Trialogi (Foto: dok. Istimewa)
    Egi membuka dan menggerakkan usaha yang dikelola langsung oleh peserta didik dengan bimbingan operasional, pelayanan, dan keuangan. Berikut ini unit usaha yang dikelola dan dijalankan anak didik Egi Trialogi:

    – Angkringan Senja: Layanan kuliner malam yang merakyat.
    – Dapoer Senja: Olahan pangan lokal dan katering.
    – Nusantara Steam: Pelatihan jasa perawatan kendaraan.
    – Toko Sayuran Berkah Nusantara: Tata kelola ritel dan distribusi bahan pangan segar.

    4. Fatmawati Arisuddin
    Fatmawati Arisuddin menggagas program Tukar Sampah dengan Ijazah Kesetaraan sejak tahun 2019. Program ini merangkul masyarakat prasejahtera di Mamuju Tengah, Sulawesi Barat (Sulbar), dengan mengintegrasikan pendidikan kesetaraan, pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sampah.

    Program Tukar Sampah dengan Ijazah Kesetaraan menyediakan pendidikan Paket A, B, dan C secara gratis. Fatmawati juga mengajak warga mengumpulkan sampah plastik dan botol bekas yang diolah menjadi material pengganti batu bata untuk membangun fasilitas pendidikan.

    Kandidat DPD RI Awrads Fatmawati Arisuddin Foto: dok. Istimewa
    Kemudian gerakan ini diperluas melalui Program Keaksaraan Dasar dan Keaksaraan Usaha Mandiri bagi masyarakat yang belum mampu membaca, menulis, dan berhitung. Ada juga program Tukar Sampah dengan Beasiswa Kuliah untuk membantu lulusan Paket C melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

    Program-program yang dijalankan Fatmawati Arisuddin ini menghubungkan pendidikan, pelestarian lingkungan, kemandirian masyarakat dan gotong royong dalam satu ekosistem pemberdayaan desa.

    5. Gusti Mohammad Hamdan Firmanta
    Gusti Mohammad Hamdan Firmanta merupakan pendiri Kawan Netra, lembaga pendidikan untuk pendampingan tunanetra yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur, sejak tahun 2021. Kawan Netra menjalankan program Gerakan Tunanetra Mengaji (GTM) dan Buta Digital (BD).

    Program GTM digagas berangkat dari angka buta huruf Quran Braille (QB) di kalangan tunanetra muslim Indonesia yang cukup tinggi, yakni mencapai 95%. Mereka hafal Al Quran dan mahir qiroah, tapi untuk membacanya karena tak mampu.

    Kandidat DPD RI Awards Gusti Mohammad Hamdan Firmanta Foto: dok. Istimewa
    Program ini menjadi support system pendidikan baca tulis QB yang memastikan pembelajaran berjalan dengan baik dan berkelanjutan. Di dalamnya terdapat pelatihan guru QB, Kegiatan Belajar Mengaji, Festival Tunanetra Mengaji dan kerelawanan.

    Sementara program BD merupakan program bimbingan dan pelatihan literasi digital bagi tunanetra agar bisa mandiri dan mengoperasikan platform digital. Dengan program ini, para tunanetra bisa menguasai sejumlah flat form digital dan bisa menghindarkan mereka dari penipuan.

    6. Kanaya Malika Amanda
    Kanaya Malika Amanda adalah kandidat berasal dari Kabupaten Bungo, Jambi. Dia merupakan penggagas dan penggerak program Edukasi Berjalan, yakni gerakan youth changemaker yang merangkum perjalanan 8 tahun Kanaya sebagai pendidik pemuda dan anak. Gerakan ini berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam memajukan pendidikan masyarakat marjinal.

    Inisiatif ini lahir dari minimnya pembangunan serta inovasi pendidikan oleh pemerintah daerah yang jarang melibatkan pemuda. Bergerak secara independen, Kanaya menggerakkan anak muda untuk merangkul, berbagi dan menginspirasi anak-anak dari komunitas rentan demi menciptakan akses pendidikan yang setara.

    Kandidat DPD RI Awards Kanaya Malika Amanda Foto: dok. Istimewa
    Hingga kini, Kanaya telah memimpin lebih dari 253 program pendidikan langsung bagi anak dan pemuda yang mencakup isu hak asasi manusia, lingkungan (sampah dan iklim), pemberdayaan perempuan, keamanan digital, pencegahan kekerasan dengan metode pendidikan sistem thinking (pendidikan bagaimana dunia bekerja: politik, ekonomi, sosial).

    Lewat program-program youth changemakers, gerakannya telah berdampak langsung pada 28.575 orang di 11 kota dan 2 negara, serta menjangkau partisipasi daring hingga ke 10 negara di tingkat lokal hingga internasional.

    7. Sofian
    Sofian mendirikan Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL), wadah pendidikan konservasi bunga puspa langka Bengkulu atau Rafflesia, sejak tahun 2010. KPPL didirikan berawal dari keprihatinan terhadap rendahnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian Rafflesia.

    Melalui KPPL, Rafflesia dijadikan sebagai media pembelajaran dan pintu masuk pendidikan lingkungan. Edukasi dilakukan melalui kegiatan pengenalan Rafflesia, pembelajaran langsung di habitat, ekspedisi, pengamatan, dokumentasi, kampanye konservasi, edukasi ke sekolah, komunitas, serta pemanfaatan media digital.

    Kandidat DPD RI Awards Sofian Foto: dok. Istimewa
    Pendekatan ini membuat pendidikan tidak hanya berlangsung secara teoritis, tetapi memberikan pengalaman nyata kepada masyarakat untuk mengenal, memahami, mencintai, dan menjaga kekayaan alam di sekitarnya. Kegiatan ini menempatkan masyarakat sebagai subjek sekaligus pelaku pendidikan konservasi Rafflesia.

    Pengetahuan yang diperoleh diarahkan menjadi kepedulian dan aksi nyata, seperti menjaga habitat Rafflesia, menyebarkan informasi konservasi, menerapkan etika saat berada di lokasi puspa langka, serta mengajak masyarakat lain untuk turut melestarikannya.

    8. Sri Wahyaningsih
    Sri Wahyaningsih merupakan inisiator Sanggar Anak Alam (SALAM), “Laboratorium Pendidikan” untuk melayani anak-anak dari jenjang PAUD hingga SMA. SALAM diinisiasi pada tahun 1988 di Desa Lawen, Banjarnegara, sebagai respons terhadap tingginya angka putus sekolah dan pernikahan dini.

    Kemudian, SALAM mengembangkan pendekatan “sekolah hadap masalah”, yaitu pembelajaran berbasis pengalaman nyata, pengamatan lingkungan, diskusi, riset, dan pencarian solusi bersama. Sejak 2000, pendekatan itu dikembangkan di SALAM, Nitiprayan, Bantul, melalui PKBM yang mendampingi anak usia dini hingga setara SMA.

    Kandidat DPD RI Awards Sri Wahyaningsih Foto: dok. Istimewa
    Proses belajar tidak berbasis mata pelajaran, tetapi riset sesuai minat anak dengan empat pilar utama, yaitu pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya, yang kemudian ditambah dengan energi.

    Melalui SALAM, proses belajar dibebaskan dari dinding kelas yang kaku dan teks hafalan. SALAM menjadikan lingkungan sekitar, potensi lokal serta peristiwa sehari-hari di masyarakat sebagai media utama pembelajaran.

    Belajar tidak lagi diartikan sebagai persiapan untuk ujian, melainkan proses mengalami dan memahami kehidupan itu sendiri secara kontekstual. SALAM membuktikan bahwa komunitas lokal mampu mengelola pendidikan yang inklusif, humanistis, dan memberdayakan tanpa harus bergantung penuh pada standardisasi kaku.

    9. Taryaningsih
    Taryaningsih mendirikan Kawasan Inklusif sebagai wadah pendidikan nonformal bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Kawasan Inklusif dibangun pada tahun 2019, inovasi pertama di Indonesia yang menghabiskan dana Rp 3 miliar lebih.

    Lewat Kawasan Inklusif, para penyandang disabilitas diberikan bekal keterampilan vokasi untuk mencetak disabilitasmart. Para penyandang disabilitas juga diajari langsung hidup berdampingan di masyarakat (bersosialisasi dengan non disabilitas).

    Kandidat DPD RI Awards Taryaningsih Foto: dok. Istimewa
    Pembangunan Kawasan Inklusif ini bertujuan untuk memberikan kesempatan pada disabilitas dan kelompok rentan untuk mempunyai rumah sendiri. Program ini membantu menciptakan infrastruktur yang ramah disabilitas (rumah dengan desain khusus).

    Taryaningsih juga berupaya menciptakan usaha untuk disabilitas dan memudahkan pemasaran karena menjadi satu sentra usaha (kawasan produktif).

    Layanan umum di kawasan ini didesain secara khusus agar aksesibel untuk disabilitas. Jalan juga dirancang khusus untuk disabilitas ada jalur kursi roda dan guiding block untuk disabilitas netra.

    10. Yudhi Hari Wibowo
    Yudhi Hari Wibowo merupakan inisiator ASN Mengajar, yakni gerakan nasional yang berawal dari pengalaman mengajar secara sukarela sejak 2017. Program ASN Mengajar dijalankan dan dipimpin Yudhi sejak 2022.

    Gerakan ini mengajak ASN di berbagai wilayah Indonesia berperan dalam pemerataan pendidikan bagi masyarakat prasejahtera melalui pendidikan formal, nonformal, dan informal.

    Kandidat DPD RI Awards Yudhi Hari Wibowo Foto: dok. Istimewa
    ASN Mengajar menjalankan kegiatan pengajaran rutin, bantuan pendidikan, kelas minat dan bakat, kewirausahaan kreatif remaja, outing class, serta beasiswa dan bantuan perlengkapan sekolah.

    Kini, gerakan ini berbadan hukum sebagai Yayasan Pendidikan Dewantara Muda dan memiliki jaringan di enam wilayah binaan, yaitu Tangerang Selatan, Banda Aceh, Samarinda, Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta Utara.

  • Kisah Mereka yang Menjaga Budaya Daerah Tetap Hidup: Dari Tenun hingga Tari

    Kisah Mereka yang Menjaga Budaya Daerah Tetap Hidup: Dari Tenun hingga Tari


    Foto: Kandidat DPD RI Awards Kategori Pelestari Budaya Daerah (dok. Istimewa)

    Jakarta – Sepuluh nama terpilih menjadi kandidat kandidat DPD RI Awards 2026 kategori Pelestari Budaya Daerah. Mereka kembali menghidupkan budaya daerah yang hampir punah hingga mempromosikan seni dan budaya hingga ke mancanegara.
    Panitia DPD RI Awards sebelumnya telah memilih 10 kandidat dalam kategori Pelestari Budaya Daerah. Penghargaan nanti akan diberikan kepada satu orang.

    “Diberikan kepada individu yang memiliki inovasi dalam pengembangan dan pelestarian budaya daerah serta berperan aktif dalam mempromosikan budaya daerah di tingkat nasional maupun internasional,” tulis DPD RI dalam laman resminya, seperti dilihat detikcom, Rabu (7/10/2026).

    Berikut nama 10 kandidat Pelestari Budaya Daerah DPD RI Awards 2026, yang diurutkan berdasarkan abjad:

    1. Alfonsa Raga Horeng
    Alfonsa Raga Horeng merupakan pelestari, penggerak dan pendiri Sentra Tenun Lepo Lorun, yang memberdayakan kaum perempuan untuk menjaga warisan budaya tenun ikat tradisional di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Gagasan utamanya bukan hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi perempuan.

    Alfonsa melakukan budidaya bahan baku, seperti kapas dan tumbuhan penghasil warna alam, untuk produksi tenun dan berbagai layanan produk serta jasa edukasi wisata. Dia mengedukasi keterampilan tenun lewat pelatihan teknik menenun, pewarnaan alami, dan pemeliharaan kualitas kain.

    Kandidat DPD RI Awards 2026 Alfonsa Raga Horeng Foto: dok. Istimewa
    Selain itu, mengedukasi mengenai makna filosofis setiap motif sehingga penenun mampu menceritakan nilai budaya produknya. Alfonsa juga melakukan pelatihan desain agar produk tradisional dapat dikembangkan sesuai kebutuhan pasar tanpa menghilangkan identitas budaya.

    Alfonsa juga membentuk kelompok usaha perempuan agar produksi dan pemasaran tenun lebih terorganisasi. Kemudian mengintegrasikan tenun dengan pariwisata budaya.

    2. Anitawati
    Anitawati merupakan pegiat budaya dan penggagas revitalisasi Tenun Tidore (Puta Dino Kayangan) yang sempat hilang lebih dari 100 tahun di Tidore, Maluku Utara. Berbekal riset arsip sejarah, penelusuran jejak penenun dan temuan alat tenun kuno, Anitawati merekonstruksi teknik, motif, dan filosofi tenun sebagai identitas budaya Kesultanan Tidore.

    Melalui pelatihan menenun, pendampingan usaha, serta pemberdayaan perempuan, pemuda, pelajar dan warga binaan rutan, Anitawati tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi berbasis industri kreatif.

    Kandidat DPD RI Awards kategori budaya Anitawati (Foto: dok. Istimewa)
    Anitawati mengembangkan motif-motif yang mengangkat sejarah Tidore sebagai Spice Islands, menjadikan tenun sebagai media edukasi sejarah dan diplomasi budaya.

    Dia juga membawa tenun Tidore tampil di berbagai ajang internasional, antara lain Indonesia New York Fashion Week (2022), Kyoto (2023), Cape Town (2023), Paris (2024), dan Rabat (2024), serta berhasil menembus pasar ekspor melalui outlet di Hamburg, Jerman.

    3. Cletus Beru
    Cletus Beru merupakan pelopor dan pelestari budaya di Desa Umauta hingga menjadi desa wisata di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dia mengembangkan model wisata budaya berbasis masyarakat adat, mengedepankan gotong royong, dan mendorong wisata berkelanjutan.

    Kandidat DPD RI Awards kategori budaya Cletus Beru (Foto: dok. Istimewa)
    Cletus Beru menghubungkan budaya dengan ekonomi kreatif desa. Dia juga aktif memperjuangkan akses dan perhatian pemerintah terhadap desa wisata budaya di Kabupaten Sikka.

    Berkat dedikasinya, Cletus Beru membawa Desa Umauta masuk 100 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, dan 50 Besar ADWI 2022.

    4. Endang Dzunuraini
    Endang Dzunuraini merupakan pendiri Sanggar Mbah Guru, pusat komunitas pelestarian batik yang memberdayakan perempuan pedesaan dan seniman lokal di Lamongan, Jawa Timur. Melalui Sanggar Mbah Guru, para pengrajin batik desa di Lamongan berhasil kembali dihidupkan setelah sempat punah.

    Endang membuka wisata edukasi belajar membatik lengkap hingga kunjungan ke kebun pewarna alam. Sanggar Mbah Guru memiliki kebun budidaya berisi sekitar 100 jenis tanaman mengandung tanin pewarna alam sebagai laboratorium hidup sekaligus kebun pewarna alam percontohan yang terintegrasi dengan eco edu culture tourism.

    Kandidat DPD RI Awards kategori budaya Endang Dzunuraini. (Foto: dok. Istimewa)
    Sanggar Mbah Guru memproduksi batik dengan menggunakan pewarna alami dari tanaman yang bisa diregenerasi dan juga berinovasi mengolah limbah pertanian menjadi pewarna alami batik.

    Lewat Sanggar Mbah Guru, Endang memberdayakan kaum perempuan desa hingga mengurangi pernikahan dini, KDRT dan perceraian karena masalah ekonomi.

    5. Juwandi
    Juwandi merupakan penggerak yang menjadikan Desa Budaya Bukit Batu sebagai pusat pelestarian budaya Melayu di Kabupaten Bengkalis, Riau. Dia merangkum anak-anak muda untuk menjaga dan mengembangkan budaya Melayu di Bengkalis.

    Berbagai tradisi, seni, dan sejarah lokal dihidupkan melalui kolaborasi Pentahelix: Festival Budaya Bukit Batu, Festival Sungai Bukit Batu, pengembangan Kampung Tenun, pertunjukan seni Melayu, diskusi sejarah, membentuk sanggar serta pelibatan masyarakat dan generasi muda.

    Kandidat DPD RI Awards kategori budaya Juwandi. Foto: dok. Istimewa
    Gerakan ini juga menjadikan budaya sebagai sumber kebanggaan, kreativitas, pendidikan, pariwisata dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Bahkan Tenun Bukit Batu telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2022 oleh Kementerian Kebudayaan.

    Desa Budaya Bukit Batu berhasil meraih berbagai prestasi di tingkat provinsi dan nasional serta memperoleh dukungan dana dari Kementerian Kebudayaan secara berturut-turut (2024-2026). Jejaring budaya dan akademik yang dibangun mulai menjangkau Jepang (2023-2026).

    6. Leni Febrianti
    Leni Febrianti adalah penggagas dan pemegang hak cipta Batik Kagano untuk menghadirkan identitas budaya Bengkulu Utara, yang bersumber dari kekayaan alam dan karakter daerah. Batik Kagano diluncurkan pada tahun 2019.

    Batik Kagano lahir dari gagasan untuk menghadirkan identitas budaya Bengkulu Utara dan dikembangkan dengan mengangkat Kacamata Enggano dan Rafflesia Kemumu sebagai inspirasi utama motif. Batik Kagano mengubah kekayaan lokal menjadi identitas visual yang dapat dikenali, digunakan, dan diwariskan.

    Kandidat DPD RI Awards kategori budaya Leni Febrianti. Foto: dok. Istimewa
    Batik Kagano juga digunakan sebagai seragam resmi pemerintah dan sekolah di wilayah Bengkulu Utara, sehingga identitas budaya tidak hanya dipamerkan dalam kegiatan seremonial, tapi menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

    Kontribusi Batik Kagano tidak berhenti pada penciptaan motif, identitas menjadi fondasi bagi pengembangan ekosistem pelestarian budaya melalui pelatihan perajin, desa binaan, pendidikan, pemberdayaan kelompok masyarakat, pengembangan UMKM, hingga pengenalan budaya ke tingkat internasional.

    7. Maulana Muhammad Syuhada
    Sejak tahun 2002, Maulana Muhammad Syuhada aktif melestarikan dan mempromosikan angklung di berbagai belahan dunia. Dia mendirikan berbagai grup angklung dan kesenian tradisional di antaranya Angklung Hamburg Orchestra (2002), Sabilulungan (2003), Lancaster High School Angklung Orchestra (2006), Lancaster University Angklung Orchestra (2007), Angklung Manchester (2009).

    Kandidat DPD RI Awards kategori budaya Maulana Muhammad Syuhada. (Foto: dok. Istimewa)
    Kemudian pada tahun 2015, Maulana mendirikan Tim Muhibah Angklung (TMA) dan sudah melakukan 6 kali misi budaya ke Eropa (2016, 2018, 2022), Australia (2018, 2025), USA (2022) dan Timur Tengah (2024). Dalam 10 tahun terakhir, TMA sudah berpartisipasi dalam berbagai festival internasional di berbagai negara seperti Skotlandia, Belgia, Republik Ceko, Polandia, Bulgaria, Turki, Bosnia-Herzegovina, Amerika Serikat, Portugal, Spanyol dan Australia.

    Maulana juga melakukan “Flash Mob Angklung” di berbagai landmark dunia seperti Port of Hamburg (2016); Queen Street Mall, Brisbane (2018); Basilica, Budapest (2018); Times Square, New York (2022); Mushrif Mall, Abu Dhabi (2024); Australian Museum, Sydney (2025).

    Pada tahun 2007, membuat buku “40 Days in Europe: Kisah Kelompok Musik Indonesia menaklukkan daratan Eropa”, buku tentang perjalanan Tim Expand The Sound of Angklung ke tujuh negara Eropa tahun 2004. Tahun 2016, mengangkat perjalanan TMA ke Eropa dalam sebuah film dokumenter berjudul “The Journey: Angklung Goes To Europe”, film dokumenter layar lebar pertama tentang angklung.

    Maulana mendirikan Angklung Centre, sebuah platform online yang bertujuan untuk melayani berbagai kebutuhan masyarakat akan angklung, baik di dalam maupun luar negeri. Angklung Centre juga berfungsi sebagai pusat pengetahuan tentang angklung, pusat database angklung, pusat informasi dan kegiatan angklung, pusat penjualan dan distribusi angklung.

    8. Mugiyono Kasido
    Mugiyono Kasido merupakan maestro seniman tari, baik sebagai penari maupun koreografer tari yang dipentaskan di berbagai kota di Indonesia dan mancanegara. Mugiono menelurkan sejumlah karya seni tari yang fenomenal.

    Pertama karya “Mencari Mata Candi” pada 2003, yang menggabungkan vokabuler gerak tarian Siwa dalam panel relief Candi Prambanan dengan tari topeng Jawa, wayang dan gerakan tari modern. Karya ini dipentaskan di Kunsten Festival des Arts, Brussels, Belgia; Lincoln Center Festival, New York USA; Gothenburg Festival, Swedia; dan Centre National de la Danse, Perancis.

    Kandidat DPD RI Awards kategori budaya Mugiyono Kasido. Foto: dok. Istimewa
    Kedua “Kabar Kabur”, karya yang membiaskan batas tari, teater, dan pantomim. Hanya dengan kostum berupa kaos dan celana pendek warna putih, Mugiyono mengungkapkan kejadian kekacauan informasi atau hoax pasca kerusuhan 1998. Sejak tahun 2000-2024, karya ini dipentaskan 138 kali di 25 negara, 5 benua.

    Ketiga “Bima Suci” tahun 2011, karya yang dipentaskan di Taman Mini Indonesia Indah. Mugiyono menari dan mengkoreografi selama 36 jam 36 menit 36 detik nonstop dengan live musik gamelan tradisional dan kontemporer.

    Keempat “Bagaspati”, karya yang memadukan tari topeng Jawa tunggal dengan gerak sufi memutar. Karya ini dipentaskan 30 kali di 11 negara Eropa, Asia, USA sejak tahun 2001 hingga 2011.

    Kelima karya “Kosong”, yang menggunakan gamelan sebagai musik dan sekaligus properti menari. Karya ini telah dipentaskan 13 kali di lima negara pada tahun 1995-1996.

    9. Muhammad Ridwan Alimuddin
    Muhammad Ridwan Alimuddin merupakan peneliti independen yang berdedikasi dalam merevitalisasi kebudayaan bahari Mandar, khususnya perahu tradisional Sandeq. Dia juga Duta Baca Sulawesi Barat dan pendiri Komunitas Bahari Mandar sejak 2006.

    Kandidat DPD RI Awards kategori budaya Muhammad Ridwan Alimuddin. Foto: dok. Istimewa
    Ridwan menginisiasi dan bertindak sebagai kurator program Student on Sandeq (SOS) yang dilaksanakan sejak 2022 sampai 2026, wadah edukatif yang mendekatkan generasi muda pada teknik pembuatan hingga pelayaran perahu tradisional.

    Dia aktif terlibat dalam pelaksanaan festival Sandeq Race untuk merawat marwah dan eksistensi pelaut lokal secara berkelanjutan sejak 2001. Dia juga terlibat dalam pelayaran rekonstruksi historis seperti ekspedisi Padewakang ke Australia (2019-2020) serta mendirikan muse

    10. Poltak Tambunan
    Poltak Tambunan merupakan sastrawan nasional pendiri komunitas sastra etnik Tortor Sangombas, Sumatera Utara. Dia membina para penulis sastra modern dalam bahasa daerah.

    Kandidat DPD RI Awards Poltak Tambunan (Foto: dok. Istimewa)
    Pembentukan Tortor Sangombas bertujuan untuk penyelamatan, pelestarian, dan pengembangan penulisan sastra modern berbahasa Batak.
    Poltak juga membuat sejumlah karya sastra modern dalam bahasa Batak.

    Berkat dedikasinya itu, Poltak Tambunan menjadi inspirasi munculnya sastrawan dalam berbagai bahasa daerah. Dia juga mendapat sejumlah penghargaan mulai dari Batak Center hingga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

  • Para Inovator Teknologi Kesehatan: Kembangkan Riset Klinis hingga Alkes

    Para Inovator Teknologi Kesehatan: Kembangkan Riset Klinis hingga Alkes

    Foto: Kandidat Inovator Teknologi Kesehatan DPD RI Awards 2026 (dok. Istimewa)

    Jakarta – Berbagai inovasi di bidang kesehatan yang dilakukan oleh kandidat Inovator Teknologi Kesehatan DPD RI Awards 2026. Mereka menciptakan alat deteksi dini untuk kanker serviks hingga melakukan riset untuk bahan baku obat.
    Sepuluh kandidat ini telah dipilih oleh panitia DPD RI Awards 2026. Proses penyaringan dimulai dari seleksi administrasi terhadap seribuan kandidat yang mendaftar.

    Panitia lalu menentukan 50 besar kandidat sebelum akhirnya menyaring kembali hingga terpilih 10 besar kandidat di masing-masing kategori. Pada kategori bidang kesehatan ini, penghargaan akan diberikan kepada individu hingga profesional yang menjadi inovator teknologi kesehatan.

    “Diberikan kepada individu, profesional atau akademisi yang menghasilkan inovasi di bidang kesehatan melalui riset klinis maupun laboratorium, termasuk penemuan obat, terapi, atau alat kesehatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” tulis DPD RI dalam laman resminya, seperti dilihat detikcom, Rabu (7/10/2026).

    Berikut nama-nama 10 kandidat Inovator Teknologi Kesehatan DPD RI Awards 2026, yang diurutkan berdasarkan abjad:

    1. Amal Rezka Putra
    Amal Rezka Putra mengembangkan berbagai radiofarmaka, yaitu obat yang menggunakan zat radioaktif untuk membantu dokter mendeteksi dan menangani penyakit, khususnya tuberkulosis (TB) dan kanker. Amal adalah kandidat dari Jawa Barat.

    Inovasinya mencakup Kit Etambutol untuk membantu menemukan lokasi infeksi TB, termasuk TB di luar paru. Inovasi Samarium-153 EDTMP untuk membantu mengurangi nyeri pada pasien kanker yang telah menyebar ke tulang. Inovasi Iodium-131 MIBG untuk membantu diagnosis dan terapi kanker neuroblastoma pada anak.

    Selain itu, Amal Rezka juga mengembangkan mikrosfer Samarium-153 dan Holmium-166 sebagai kandidat terapi kanker hati.

    Kandidat DPD RI Awards Amal Rezka Putra (Foto: dok. Istimewa)
    Berbagai inovasi itu dikembangkan dari tahap penelitian hingga hilirisasi dengan beberapa produk telah memperoleh izin edar BPOM dan digunakan dalam pelayanan kedokteran nuklir di sejumlah rumah sakit.

    2. Aslis Wirda Hayati
    Aslis Wirda Hayati adalah kandidat dari Riau. Dia mengembangkan inovasi di bidang kesehatan dan gizi yang berfokus pada pencegahan stunting serta peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pola makan bergizi. Inovasinya mencakup metode deteksi dini pertumbuhan linier anak balita dan edukasi gizi bagi remaja dengan memanfaatkan makanan khas daerah.

    Dia mengembangkan metode dan alat rapid diagnostik pertumbuhan linier anak balita dengan memanfaatkan Pyridinium Crosslinks (Pyd) dalam urin sebagai biomarker pertumbuhan tulang. Metode ini dikembangkan sebagai alternatif pengukuran pertumbuhan yang lebih meyakinkan dan tidak menyakitkan bagi anak.

    Kandidat DPD RI Awards Aslis Wirda Hayati (Foto: dok. Istimewa).
    Selama ini pertumbuhan linier anak umumnya dipantau melalui pengukuran tinggi badan, tapi pengukuran tinggi badan dapat dipengaruhi oleh ketepatan alat, teknik pengukuran, dan kemampuan petugas. Sementara pemeriksaan pertumbuhan tulang melalui radiologi maupun pengambilan darah memiliki keterbatasan karena paparan radiasi atau tindakan yang dapat menimbulkan rasa sakit.

    Penggunaan urin sebagai bahan pemeriksaan menawarkan pendekatan yang tidak invasif untuk mendukung deteksi gangguan pertumbuhan sejak dini. Dampaknya, sejak tahun 2023 inovasi ini telah menjangkau sekitar 1.065 anak balita di 11 desa.

    3. Eka Lestari Mahyuni
    Eka Lestari Mahyuni membuat hand soap gel dari ekstrak acem-acem. Kandidat asal Sumatera Utara itu memanfaatkan kandungan saponin serta potensi antimikroba dan antijamur dari tanaman acem-acem tersebut.

    Eka juga membuat krim anti-aging dari ekstrak acem-acem, dengan memanfaatkan kandungan antioksidan tanaman acem-acem. Krim ini dapat membantu melembapkan kulit, menyamarkan keriput dan pori-pori, serta mengurangi tampilan flek pada kulit. Produk telah diuji coba dan dapat digunakan pada pagi maupun malam hari sehingga lebih praktis bagi pengguna.

    Kandidat DPD RI Awards Eka Lestari Mahyuni (Foto: dok. Istimew
    Untuk kebutuhan pertanian melalui biopestisida ekstrak Oxalis dehradunensis R, ekstrak acem-acem digunakan sebagai bahan alami yang memiliki fungsi sebagai penolak serangga dan insektisida, salah satunya diuji untuk mengatasi serangan lalat buah.

    Pengembangan ini memberikan alternatif penggunaan pestisida berbahan alami sekaligus mengubah tanaman yang sebelumnya dianggap gulma menjadi sumber bahan yang bermanfaat bagi petani.

    4. Ike Listiyowati
    Ike Listiyowati merupakan ahli gizi yang menggagas sejumlah produk olahan makanan dan minuman pendamping ASI untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Dia juga penggerak pencegahan stunting di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

    Pertama, olahan kacang hijau dan ikan wader bernama Joder, formula makanan pendamping ASI yang mempunyai nilai protein tinggi dan bermanfaat bagi tumbuh kembang balita gizi kurang dan stunting. Implementasi Joder diberikan pada balita gizi kurang dan stunting di Puskesmas Duren, Semarang, selama 30 hari.

    Kandidat DPD RI Awards Ike Listiyowati Foto: dok. Istimewa
    Kedua, olahan moringa atau tepung daun kelor dan ikan wader (bubuk Tabur Moriwa). Makanan ini diberikan kepada bayi atau anak usia 6-24 bulan guna memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI yang tinggi protein dan antioksidan.

    Ike juga aktif dalam kegiatan Guyub Rawa Pening, gerakan bersama melawan penyebab stunting dan gizi buruk. Gerakan ini kolaborasi keluarga balita dengan dokter spesialis anak, ahli gizi, dan fisioterapis.

    5. Karisma Trinanda Putra
    Karisma Trinanda Putra mengembangkan GlucoMu, alat untuk memantau kadar gula darah dan kondisi tubuh tanpa perlu mengambil sampel darah. Alat yang dikembangkan kandidat asal Yogyakarta ini menggunakan sensor cahaya (PPG) dan kecerdasan buatan (AI) untuk membaca perubahan pada tubuh dan memperkirakan kadar glukosa secara real-time.

    Teknologi ini dirancang sebagai perangkat yang lebih nyaman, portabel, dan terjangkau dibandingkan metode pemantauan gula darah yang harus dilakukan dengan menusuk kulit.

    Kandidat DPD RI Awards Karisma Trinanda Putra Foto: Calista Photo
    Selain kadar glukosa, GlucoMu juga dapat memantau beberapa kondisi tubuh lainnya, seperti kadar oksigen dalam darah, detak jantung, variabilitas detak jantung, dan kadar hemoglobin.

    6. Masteria Yunovilsa Putra
    Masteria Yunovilsa Putra dkk mengembangkan penelitian kratom Kalimantan untuk mengubah tanaman yang selama ini banyak dijual sebagai bahan mentah menjadi bahan baku obat yang lebih bernilai. Masteria adalah kandidat yang berasal dari DKI Jakarta.

    Kandidat DPD RI Awards Bidang Kesehatan Masteria Yunovilsa Putra (Foto: dok. Istimewa)
    Sejak tahun 2022, penelitian dilakukan untuk mendapatkan dan memurnikan senyawa aktif kratom, terutama mitragynine, yang memiliki potensi sebagai pereda nyeri dan antiperadangan. Melalui penelitian dan teknologi ekstraksi, Masteria dkk berhasil menghasilkan ekstrak dengan kandungan mitragynine sekitar 50-85%.

    Kemudian teknologi ini dikembangkan sebagai kekayaan intelektual BRIN dan dilisensikan kepada PT SOHO Industri Pharmasi untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi kandidat produk farmasi.

    7. Megi Riomandala
    Megi Riomandala merupakan penggagas inovasi Sikeling Pusako (Sistem informasi kesehatan lingkungan Puskesmas Semelako), digitalisasi pelayanan kesehatan lingkungan Puskesmas Semelako, Kabupaten Lebong, Bengkulu. Sikeling Pusako lahir dari pengalaman dan kepedulian terhadap masalah kesehatan lingkungan masyarakat.

    Inovasi ini dimulai tahun 2019, awalnya mengembangkan PETISI (Pemetaan Sanitasi) untuk menjawab permasalahan masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai dan masih melakukan buang air besar di sungai.

    Kandidat DPD RI Awards Bidang Kesehatan Megi Riomandala (Foto: dok. Istimewa)
    Kemudian berkembang menjadi Sikeling Pusako tahun 2022, sebuah sistem digital untuk pendataan, pemetaan, pemantauan dan pelayanan kesehatan lingkungan yang terus dikembangkan hingga kini.

    Dampaknya nyata, desa ODF (Open Defecation Free) atau desa stop buang air besar sembarangan meningkat dari 0 desa pada tahun 2019 menjadi 100% pada tahun 2024.

    8. Nur Arning Tengara Kasih
    Nur Arning mengembangkan Sobiku Indonesia (Sobat Peduli Kanker Anak Untuk Indonesia), platform digital untuk memperkuat ekosistem deteksi dini kanker anak di tingkat masyarakat. Platform ini tersedia melalui aplikasi Sobiku Indonesia dan website dengan fitur skrining gejala kanker anak, informasi rumah singgah, artikel edukasi, komunitas, donasi, serta Sobiku Store.

    Kandidat DPD RI Awards Bidang Kesehatan Nur Arning Tengara Kasih (Foto: dok. Istimewa)
    Sobiku Indonesia tidak hanya mengandalkan platform digital, tetapi menggabungkannya dengan edukasi dan pemberdayaan masyarakat melalui empat program utama: edukasi kanker anak bersama tenaga medis, pelatihan kader Posyandu, screening gejala kanker anak di Posyandu menggunakan aplikasi serta dukungan psikososial bagi anak dan orang tua pejuang kanker.

    Acuan screening dikembangkan berdasarkan masukan dokter subspesialis hemato-onkologi anak dan panduan Kementerian Kesehatan RI. Nur Arning merupakan kandidat dari DKI Jakarta.

    9. Rini Khamimatul Ula
    Rini Khamimatul Ula adalah kandidat asal Jawa Timur. Dia mengembangkan Vein Finder berbasis Artificial Intelligence (AI) yang memanfaatkan teknologi near-infrared (NIR) dan pengolahan citra. Inovasi ini membantu tenaga kesehatan memvisualisasikan dan mengidentifikasi pembuluh darah vena secara lebih mudah.

    Keunggulan inovasi ini terletak pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan keragaman warna kulit masyarakat Indonesia tanpa harus mengubah pengaturan alat secara manual.

    Kandidat DPD RI Awards Bidang Kesehatan Rini Khamimatul Ula Foto: dok. Istimewa
    Alat juga dirancang mudah digunakan, praktis, dan terjangkau, sehingga memiliki peluang untuk dimanfaatkan tidak hanya di rumah sakit, tetapi juga di puskesmas dan fasilitas kesehatan di daerah terpencil.

    Vein Finder AI merupakan upaya menghadirkan teknologi kesehatan yang berpusat pada manusia. Inovasi ini diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan, meningkatkan kenyamanan pasien, memperluas akses teknologi kesehatan, serta mengurangi ketergantungan terhadap alat kesehatan impor.

    10. Siti Nurmaini
    Siti Nurmaini mengembangkan aplikasi TeleOTIVA, inovasi kesehatan digital dengan mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI), computer vision, dan telemedicine untuk mendukung skrining serta deteksi dini kanker serviks. Siti adalah salah satu kandidat yang berasal dari Sumatera Selatan (Sumsel).

    Aplikasi ini membantu tenaga kesehatan mendokumentasikan citra serviks, mengidentifikasi area dan lesi yang dicurigai, serta menyediakan informasi pendukung untuk evaluasi dan pengambilan keputusan klinis.

    Kandidat DPD RI Awards Bidang Kesehatan Siti Nurmaini (Foto: dok. Istimewa)
    Melalui fitur telemedicine, hasil pemeriksaan dapat dikonsultasikan dengan tenaga medis atau dokter spesialis tanpa terkendala jarak, sehingga berpotensi memperluas akses layanan screening di puskesmas dan wilayah dengan keterbatasan tenaga spesialis.

    TeleOTIVA juga menyediakan dokumentasi pemeriksaan dan pemantauan tindak lanjut pasien secara digital. Inovasi ini dikembangkan sebagai sistem pendukung keputusan klinis, bukan pengganti tenaga medis, dan tersedia melalui platform aplikasi digital.

  • Pimpin Apel Kebesaran, Kapolda Metro Apresiasi Dedikasi dan Loyalitas Anggota

    Pimpin Apel Kebesaran, Kapolda Metro Apresiasi Dedikasi dan Loyalitas Anggota

    Jakarta – Kapolda Metro Jaya Komjen Pol Asep Edi Suheri mengajak seluruh personel untuk terus menghadirkan pelayanan kepolisian yang dekat, peduli, dan bermanfaat bagi masyarakat. Pesan tersebut disampaikan saat Apel Kebesaran di Lapangan Presisi Ditlantas Polda Metro Jaya, sejalan dengan visi Kapolri ‘Polisi Bersama Masyarakat‘.
    Dalam amanatnya, Kapolda menegaskan kehadiran polisi harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Setiap anggota diharapkan tidak hanya menjalankan tugas, tetapi juga mampu mendengarkan keluhan warga, memahami persoalan yang dihadapi, serta memberikan bantuan dan solusi dengan sikap yang humanis.

    “Jadilah polisi yang bermanfaat bagi masyarakat. Itu yang selalu saya sampaikan kepada kalian semuanya. Kehadiran kita harus memberikan rasa aman, membantu, dan menjadi solusi. Jangan sakiti hati masyarakat,” kata Komjen Asep, Kamis (8/10/2026).

    Melalui semangat Polisi Bersama Masyarakat, Kapolda mengingatkan keamanan dan ketertiban tidak dapat dibangun oleh polisi sendiri, melainkan membutuhkan kebersamaan dan kepercayaan masyarakat. Karena itu, setiap personel diharapkan terus membangun komunikasi yang baik, hadir di tengah warga, serta menjadikan pelayanan dan kepedulian sebagai bagian dari pengabdian sehari-hari.

    Kapolda juga berpesan agar seluruh personel menjaga soliditas, kedisiplinan, dan kehormatan institusi. Ia mengingatkan bahwa kepercayaan masyarakat merupakan amanah yang harus dijaga melalui sikap, tutur kata, dan tindakan nyata. Setiap anggota diharapkan mampu menjadi teladan serta menghadirkan wajah Polri yang ramah, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya.

    Pada kesempatan tersebut, Kapolda turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh jajaran atas dedikasi, loyalitas, dan kebersamaan selama satu tahun dua bulan dirinya bertugas di Polda Metro Jaya. Ia berharap nilai-nilai pengabdian, kepedulian, dan kebersamaan yang telah dibangun terus dijaga serta menjadi semangat dalam mendukung kepemimpinan selanjutnya.

    Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh personel bahwa pengabdian kepada masyarakat harus terusberjalan, siapa pun yang memimpin. Semangat Polisi Bersama Masyarakat diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi diwujudkan melalui tindakan sederhana yang bermakna, yakni hadir saat dibutuhkan, membantu dengan tulus, dan menjaga kepercayaan masyarakat.

    Pakar seo, master seo, pakar seo polri , master seo polri